Paska diumumkannya kematian putra bungsu dan tiga orang cucu pemimpin Libya Muammar Khadafi akibat serangan udara NATO terhadap kota Tripoli, kedutaan Inggris dan Italia serta kantor PBB di kota itu diserang massa.
Dalam sebuah konferensi pers di televisi, Juru bicara pemerintah Libya, Moussa Ibrahim, mengatakan Saif Gaddafi al-Arab, 29, meninggal pada tanggal 30 malam waktu setempat akibat serangan NATO. Setelah pernyataan itu massa berkumpul di kompleks tempat tiggal Khadafi.
Massa menuntut dilakukan aksi balas dendam atas kematian putra bungsu Khadafi beserta tiga orang cucunya yang masih kecil. Beberapa jam kemudian massa mulai menyerang kedubes Inggris dan Italia serta kantor PBB.
Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, hari Minggu mengutuk serangan tersebut dan mengatakan pemerintahnya mengusir duta besar Libya, Omar Jelban, dari negaranya. Dikatakan juga serangan terhadap misi diplomatik merupakan pelanggaran terhadap konvensi Wina. “Konvensi Wina mengharuskan rezim Khadafi untuk melindungi misi diplomatik di Tripoli”, katanya.
Sementara pemerintah Italia menyatakan kekecewaannya karena pemerintah Libya tidak melindungi kantor perwakilan asing di negeri itu.
Sebagian besar negara-negara barat telah menutup kantor-kantor perwakilan dan mengevakuasi staf mereka dari Tripoli sebelum intervensi militer NATO dimulai beberapa minggu lalu.
PBB pada hari Minggu mengatakan pihaknya mengevakuasi stafnya dari Tripoli akibat kerusuhan di ibukota Libya tersebut. (bloomberg/washington post/voa/the globe and mail/aso | gambar ilustrasi: By futureatlas.com)
Prabowo Hadiri Peringatan Hari Buruh Internasional di Monas
Pengawalan VIP dan VVIP Diminta tidak Arogan
Kadisdik Makassar Bahas Pendidikan Inklusif di Rakor Evaluasi Kebijakan Nasional
Pjs Wali Kota Makassar Sambut Kedatangan Studi Banding Pemkot Bontang
Polres Kebumen Dirikan Posko Netralitas TNI-Polri









