Kepompong Dimakan Jadi Lauk Pauk

TUBAN – Menjadikan kepompong dan ulat daun jati sebagai lauuk pauk bagi warga Dusun Jojogan, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan serta Desa Guwoterus, Kecamatan Montong, awalnya karena sulitnya memperoleh bahan pangan terutama di saat musim penghujan seperti MENCARI KEPOMPONG DI HUTANsekarang ini. Apalagi dengan tingkat curah cukup tinggi dan hampir terjadi 2 hari sekali.

Menu makanan yang telah diwarisi secara turun temurun ini, seperti disebutkan warga setempat, Sartono, rasanya gurih-gurih manis. Karenanya, setiap pagi para wanita sete,pat berbondong-bondong memburu ulat daun jati mau pun kepompong. Mereka mengais tiap jengkal bawah pohon jati untuk mencari hewan sebesar dua kali ukuran lidi yang sarat protein ini.

“Sejak semasa masih kecil, seluruh warga desa hingga kini makan ulat atau entung (kepompong) daun jati. Rasanya enak dan gurih,” kata Sartono, Kamis (6/5/2010).

Seorang ibu rumah tangga yang terlihat berkerumun di pahan pohon jati, Sulikah, mengatakan rata-rata dalam sehari mereka bisa mengumpulkan ribuan ulat dan kepompong. Banyaknya ulat mau pun kepompong yang ditangkap, menjadikan produksi dari hutan tersbeut melimpah.

Cara memasak ulat atau kepompong daun jati tidaklah sulit. Diungkapkan Sulikah, sebelum digoreng ulat dan kepompongterlebih dulu dicuci dua kali hingga bersih. Baru direbus hingga matang.

Sulikah menuturkan, tanda-tanda ulat atau kepompong itu matang jika sudah nampak berwarna merah kecoklatan. Setelah itu, baru digoreng dengan bumbu rajangan bawang merah, bawang putih, cabe dan garam.

Tak hanya itu, ulat hasil tangkapan dari hutan jati di wilayah KPH Parengan ini, juga dijual umum.

Waga setempat menjual secara bebas di tepian jalan di kawasan jalan Desa Gowo Terus – Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, arah obyek wisaya Air terjun Nglirip dan sumber air Kerawak.

Harganya cukup murah. Hanya Rp 5.ribu per bungkus plastik isi sekira 150 hingga 200 ulat atau kepompong.