Wartawan Bojonegoro Kecam Tragedi Pembunuhan Ridwan Salamu

Bojonegoro – Persatuan Wartawan Bojonegoro (PWB) mengutuk pelaku pembunuhan kontributor SunTV dan RCTI Ambon, Ridwan Salamu saat bentrokan antar warga Tual yang terjadi di Maluku Tenggara, Sabtu, 21 Agustus 2010.

Ketua PWB, Reinno Pareno dalam keterangan persnya di Bojonegoro, Minggu, 22 Agustus 2010 siang, mengaku kematian Ridwan Salamu dalam menjalankan tugas jurnalitiknya telah menambah daftar panjang kriminalisasi pers yang terjadi di negeri ini.

Katanya belum genap sebulan rekan-rekan jurnalis se-Bojonegoro menerima kabar kematian Ardiansyah Matrais (Ardi), jurnalis Merauke TV, kontributor ANTV dan mantan jurnalis Tabloid JUBI yang ditemukan meninggal dunia di Sungai Maro.

Setelah itu media juga dikejutkan dengan meninggalnya Kabiro Kompas se-Kalimantan Muhammad Syaifullah yang diduga tidak wajar, kini media kembali dihadapkan lagi dengan kabar kematian Ridwan.

“Nampaknya negara ini gagal memberikan perlindungan kepada para jurnalis yang notabene mengemban tugas rakyat sebagai `civil society` yang kritis dan pembela HAM,” kata dia.

Tingginya kasus kekerasan bahkan berujung kematian, dia menilai sebagai bukti pembiaran negara terhadap berlangsungnya tindak kekerasan dan tidak adanya pengungkapan secara tuntas beberapa kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis.

“Di tengah perjuangan jurnalis untuk kebebasan pers dan berekspresi juga perjuangan hak-hak informasi publik, tekanan dari berbagai pihak juga makin kencang. Negara tidak memberikan jaminan perlindungan fisik dan perlindungan hukum,” kata kontributor Harian Bangsa biro Bojonegoro itu.

Sekaitan dengan hal tersebut, jurnalis se-Bojonegoro menggelar aksi do’a bersama di halaman depan kantor sekretariat Persatuan Wartawan Bojonegoro jalan Panglima Sudirman buat Keluarga Ridwan Salamun pada pukul 11:30 WIB, Minggu (22/8).

Kegiatan ini digelar sebagai bentuk kepedulian insan pers di Bojonegoro kepada sesama jurnalis. (Memet)