Mewakili Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Abdus Syakur, yang juga adalah Kasi Pengelolaan Pesisir, Pulau-pulau Kecil dan Konservasi Taman Laut, memaparkan ancaman yang dihadapi oleh perikanan Aceh. Pemaparan itu disampaikan dalam acara Dialog Lingkungan Hidup bertemakan Penyelamatan Kawasan Pesisir dan Lautan Aceh dari Kerusakan, Kamis 16 Juni 2011 di sekretariat Walhi Aceh
Jumlah nelayan Aceh saat ini diperkirakan 61.768 orang dengan 58 persen adalah nelayan tetap dan sisanya adalah nelayan paruh waktu. Abdus Syakur menambahkan 25 persen penduduk pesisir berada di bawah garis kemiskinan.
“Akibat dari kemiskinan ini masyarakat berusaha mencari nafkah dengan merusak, misalnya dengan menebang hutan mangrove atau menangkap ikan pakai bom dan sebagainya,” ujar Abdus Syakur. Fakta lain yang disampaikannya adalah saat ini telah terjadi terjadi penurunan penutupan terumbu karang 7 persen dalam 3 tahun terakhir. Bila berlanjut terus dalam kurun waktu 15 tahun terumbu karang di Aceh akan habis.
“Ini akan berakibat pada penurunan produktifitas ikan dan hasil tangkapan laut lainnya,” ujar Abdus Syakur.
Kawasan yang memiliki terumbu karang paling baik adalah Aceh Selatan, sedangkan hutan bakau yang memiliki kerapatan tertinggi berada di Lhokseumawe dan Bireuen. Tapi semuanya kini berada dalam posisi terancam menjadi tambak.
Ancaman-ancaman ini muncul karena pertumbuhan penduduk dan aktifitas masyarakat. Keterlibatan banyak pihak sangat diharapkan dalam pengelolaan kawasan pesisir Aceh sehingga diharapkan pengelolaan yang baik akan memberikan dampak meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Akademisi dari Jurusan Kelautan Fakultas MIPA Universitas Syiahkuala, DR. Nurfadli, dalam kesempatan yang sama berpendapat bahwa masyarakat yang miskin menjadikan mereka merusak lingkungan.
“Hidup masyarakat kita terlalu miskin sehingga masyarakat melakukan kegiatan yang merusak lingkungan,” ujar Nurfadli. Tidak ada negara berkembanga yang peduli lingkungan. Berbeda dengan masyarakat negara maju yang sudah sejahtera, kerusakan lingkungan relatif kecil.
“Tapi negara maju pun dulunya, sebelum kayak sekarang, juga merusak lingkungan,” sambung alumni Jerman ini. Ia menganjurkan agar dilakukan upaya-upaya mensejahterakan masyarakat atau pemberdayaan ekonomi. Terapkan teknologi untuk menambah nilai jual produk-produk perikanan Aceh. (Foto: DMahendra)









