Lavrov Ungkap Jawaban AS Terhadap Proposal Keamanan Rusia

20220127-sergey-lavrov
Menlu Rusia Sergey Lavrov.

maiwanews – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengungkap isi tanggapan Amerika Serikat atas proposal jaminan keamanan Rusia. Dokumen jawaban disampaikan Dubes AS (Duta Besar Amerika Serikat) untuk Rusia John J Sullivan hari Rabu (26/01/2022). Namun pejabat AS menolak merinci isi dokumen itu.

Menlu (Menteri Luar Negeri) Lavrov saat ditanya oleh wartawan, mengatakan bahwa inti dari dokumen itu memaparkan alasan untuk melakukan pembicaraan serius terhadap hal-hal tidak terlalu penting. Tidak ada tanggapan positif terhadap masalah utama, yaitu pendirian Rusia tentang perluasan keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) dan pengerahan senjata.

Keanggotaan NATO terus berlanjut ke arah Timur, sementara pengerahan senjata serang dapat menimbulkan ancaman bagi wilayah Federasi Rusia. Menlu Lavrov saat menjawab wartawan pada hari Kamis (27/01/2022) mengatakan hal itu tidak dapat diterima.

Masalah perluasan NATO memiliki sejarah panjang. Pada tahun 1990, ketika Jerman dipersatukan kembali dan isu keamanan Eropa diangkat, mereka dengan sungguh-sungguh berjanji bahwa tidak akan memperluas NATO bahkan satu inci pun ke Timur melewati Sungai Oder.

Fakta-fakta ini diketahui dengan baik dan telah dimasukkan dalam banyak memoar oleh pejabat Inggris, AS, dan Jerman. Tapi, menurut Menlu Lavrov, sekarang isu ini telah menjadi bahan perdebatan sengit.

“Sekarang kami telah mengutip janji-janji yang dibuat bukan dalam kata-kata tetapi dalam bentuk dokumen, ditandatangani oleh para pemimpin semua negara OSCE (Organization for Security and Co-operation in Europe -red) termasuk Deklarasi Istanbul 1999 dan Deklarasi Astana 2010”, ungkap Menlu Lavrov.

Sebanyak 57 negara tergabung dalam OSCE, negara-negara itu berasal dari kawasan Eropa, Asia Tengah, dan Amerika Utara. Negara-negara anggota OSCE antara lain adalah Amerika Serikat, Inggris, Rusia, dan Ukraina.

Menlu Lavrov mengatakan, pada intinya kedua deklarasi tersebut menetapkan komitmen negara-negara peserta terhadap prinsip keamanan dengan mencakup dua pendekatan saling berhubungan. Pertama adalah kebebasan negara untuk memilih aliansi militer. Kedua, kewajiban untuk tidak memperkuat keamanan mereka dengan mengorbankan keamanan negara lain.

Menlu Lavrov menjelaskan lebih lanjut, berdasarkan prinsip itu, kebebasan untuk memilih pengaturan keamanan dikondisikan oleh janji untuk menghormati kepentingan keamanan negara OSCE lainnya, termasuk Federasi Rusia. (z)