maiwanews – Memasuki hari keempat kerusuhan di Kota Buol yang memakan korban jiwa tujuh warga dan puluhan lainnya luka-luka, kondisi di tempat kejadian hingga malam ini, semakin anarkis.
“Kami mengirim pasukan karena kondisi yang makin anarkis,” ujar Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi usai buka puasa di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo No.1 Jakarta Selatan Kamis, 2 September 2010.
Ito menjelaskan, tim dari Mabes Polri telah berada di sana, dan kalau ada anggota yang menjadi sumber kerusuhan akan ditindak secara internal. Hasil penyidikan, kata Ito, akan dibawa ke Propam yang akan melakukan tindakan ke dalam.
Di sisi lain tim tersebut, katanya, ingin melihat apa latar belakang aksi massa tersebut dan siapa dalangnya. Ito berjanji, jika ada anggota kepolisian yang melanggar kode etik, maka akan diberikan sanksi tegas.
Seperti diketahui, pada 31 Agustus malam, terjadi aksi pelemparan batu oleh ratusan orang terhadap Mapolsek. Akibatnya, 7 warga meninggal tertembak dan puluhan lainnya luka, juga karena tembakan.
Kejadian tersebut dipicu oleh kematian Kashmir bin Yeti Mumun (19), yang menurut massa, dibunuh dengan sengaja, meski polisi mengatakan Kashmir meninggal karena gantung diri di tahanan Mapolsek Buol.
Kashmir ditahan di sel polisi lantaran terlibat kecelakaan lalu lintas dengan salah seorang anggota polisi yang mengakibatkan polisi itu mengalami luka serius.









