Jakarta – Sebagai salah satu maskapai penerbangan swasta, Mandala Air akhir – akhir ini melakuakan banyak perubahan. Secara segmentatif, maskapai yang dahulu sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Kostrad, juga melakukan positioning yang agak ke atas.
Soal harga tiket, Mandala tidak lagi memberlakukan sistem tarif murah secara penuh sebagaimana yang masih dianut oleh sebagian besar maskapai penerbangan dalam negeri, beberapa rute penerbangan menetapkan tarif yang lebih mahal.
Terkait dengan positioning itu, Mandala melakukan banyak pilihan yang berbeda. Seperti armada, Mandala menggunakan pesawat baru buatan Airbus, sementara pangkalan, Mandala memilih hengkang dari terminal 1C dan pindah ke terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Cengkareng.
Pemilihan terminal 3 cukup beralasan, kontruksi terminal 3 didesain cukup mewah dan modern. Terminal yang diresmikan oleh Presiden SBY 20 April 2009 itu menggunakan area 48 hektar dan dirancang untuk melayani 20 juta penumpang per tahun. Penggunaan banyak kaca dimaksudkan untuk meminimalisir penggunaan lampu di siang hari, justru memberi kesan mewah dan memberi pemandangan yang menyenangkan.
Keberadaan terminal yang modern dan ramah lingkungan tersebut, sejalan dengan eksistensi maskapai  penerbangan yang mengklaim dirinya sebagai satu – satunya maskapai penerbangan swasta berjadwal yang standar keselamatannya sejajar dengan maskapai penerbangan di Eropa.
Sayangnya, terminal yang sebelumnya digunakan sebagai terminal khusus Jamaah Haji dan Tenaga Kerja Indonesia itu, berkonstruksi satu lantai, sehingga dengan demikian dirancang untuk tidak mengunakan Garbarata.









