maiwanews – Setelah sebelumnya zona bahaya diperluas dari jarak 10 kilometer menjadi 15 kilometer menyusul aktifitas Gunung Merapi yang terus meningkat, kini zona bahaya itu kembali diperluas menjadi 20 kilometer.
Perluasan zona yang kedua kalinya itu, dikarenakan aktivitas Gunung Merapi menunjukkan peningkatan yang membahayakan bagi warga sekitar lereng Merapi. Karenanya, pemerintah setempat diimbau segera mengevakuasi warga.
Sebelumnya, menjelang Jumat dinihari, Gunung Merapi kembali meletus. Letusan itu disusul dengan suara gemuruh yang sangat besar terdengar sejak menjelang tengah malam yang disertai dengan hujan kerikil di lereng Merapi.
Suara menggelegar dari Merapi itu kembali membuat panik warga Yogyakarta. Akibatnya, warga tumpah ruah di jalan-jalan utama seperti Kaliurang, Ring Road Utara dan Gejayan.
Jalanan yang sesak oleh warga, dipenuhi debu sisa hujan abu, kemudian hujan kerikil dan partikel pasir, ditambah klakson kendaraan yang tidak henti-hentinya berbunyi, semakin membuat panik warga yang terus berusaha menjauhi lereng Merapi.
Ribuan warga yang tengah mengungsi yang sebelumnya menumpuk di Jl Kaliurang, juga dari Pakem, Turi, dan Cangkringan, dipindahkan ke Stadion Maguwoharjo di Kecamatan Depok, Sleman akibat meluasnya zona bahaya itu. Stadion ini jaraknya sekitar 30 km dari Merapi.
Namun evakuasi warga itu terhambat karena kondisi jalan yang padat dan tertutup abu sehingga jarak pandang jadi terhambat. Debu di jalan makin menyulitkan ketika berubah jadi lumpur karena diguyur hujan.
Sementara itu, sedikitnya 50 orang korban awan panas Merapi kini sedang menjalani pertolongan di RS Sardjito Yogyakarta. Korban itu, hampir semuanya dipastikan mengalami luka bakar, lima orang diantaranya adalah balita.
Akibat awan panas itu, satu orang balita dilaporkan telah meninggal dunia. Kedua orang tua bocah yang tewas itu juga kini sedang dirawat di RS Sardjito.









