Polisi Akui Lamban Tangani Bentrok di Jalan Ampera

iskandar hasanmaiwanews – Polri akan mengevaluasi pengamanan terkait insiden bentrok dua kelompok yang menyebkan tiga tewas di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Rabu, 22 September 2010.

Polri mengaku lamban dalam mengatasi bentrok yang juga menyebabkan delapan orang luka-luka serta tiga Polisi terkena peluru dan senjata tajam pelaku kerusuhan.

“Ya kita akui, kita agak lamban. Ini jadi bahan evaluasi kita semua,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Iskandar Hasan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Kamis, 30 September 2010.

Selain itu, Iskandar juga mengakui, dalam insiden itu fungsi intelijen belum berjalan sebagaimana mestinya. “Mau enggak mau kita mengakui kekurangan itu,” kata Iskandar lagi.

Meski begitu, Iskandar menjelaskan bahwa saat kejadian, pengamanan oleh kepolisian yang jumlahnya 286 orang, fokus pada pengamanan di dalam lingkungan pengadilan.

“Tugas pokok kita mengamankan sidang sehingga lingkaran dalam sidang itu yang diamankan lebih utama, tahu-tahunya ada yang nyelonong begini,” kata Iskandar menjelaskan.

Peristiwa bentrokan bermula ketika sekelompok massa dengan menumpang Kopaja dari arah Cilandak lalu berhenti di depan warung makan sektan 50 meter sebelum PN Jakasel laluturun dan  menembaki sekelompok orang yang sedang makan di warung itu.

Usai melakukan penembakan, masih menggunakan Kopaja yang sama, kelompok penyerang itu lalu kemudian melarikan diri dengan memutar kembali menuju arah Cilandak.

Kelompok yang diserang kemudian balik mengejar, sehingga seorang bernama Frederick Pilo Letlet (29) dan sopir Kopaja, Saefuddin (48) meninggal dunia di tempat.

Korban lain bernama Agustinus Tomasoa Saparua (49) juga ditemukan tewas di dalam toko sepatu La Ricci.

Selain itu, sebanyak delapan orang mengalami luka terkena tembakan dan sabetan parang, seorang yang bernama Jayakusumah mengalami ktitis dan tingga anggota kepolisian juga terkena peluru dan senjata tajam.