maiwanews – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan bahwa dirinya tidak anti terhadap kritik. Namun begitu, ia minta agar kritik yang disampaikan terhadapnya agar dilakukan dengan proporsional.
“Kritik kalau proporsional dan benar tentunya laksana obat,” kata Presiden Yudhoyono saat buka puasa bersama Majelis Dzikir di kediaman pribadinya, Puri Cikeas, Bogor, Selasa, 7 September 2010.
Sebab, kata Yudhoyono, menjalankan roda pemerintahan tidaklah semudah membalik telapak tangan.
Namun demikian, lanjut Kepala Negara, upaya untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi masyarakat Indonesia akan dilakukan terus menerus.
Pada kesempatan itu, Presiden juga mengaku menyesalkan adanya berbagai kritik dan kecaman terhadap pemerintah yang ia nilai justru tidak membuahkan apapun untuk perubahan.
SBY juga menilai kritik saling menyalahkan tidak akan menghasilkan apa-apa. “Saling salah-menyalahkan, mengecam, mengritik, tidak akan menghasilkan apa-apa,” kata Presiden SBY.
Menurut Presiden, pembangunan bangsa merupakan suatu kesinambungan sejak presiden Indonesia pertama, Soekarno. Kalaupun ada kekurangan dalam proses pemerintahan, katanya, sebaiknya dibenahi bersama-sama, tanpa saling menyalahkan.
“Dari mendiang Presiden Soekarno hingga kini harus dilanjutkan yang baik. Kalau ada yang kurang, tanpa menyalahkan siapapun, mari kita perbaiki,” kata SBY.
Pernyataan Presiden ini disampaikan terkait kritik terbuka yang disampakan seorang Perwira Menengah TNI AU, Kolonel Pnb Adjie Suradji. Adjie mengkritik melalui opini di harian Kompas edisi Senin, 6 September 2010.
Adjie dalam tulisan itu mengkritik kepemimpinan Presiden yang ia nilai tidak tegas dan tidak berani melakukan perubahan, termasuk di bidang pemberantasan korupsi. Ia juga membandingkan SBY dengan presiden RI sebelumnya.
Di bawah tulisannya, Adjie Suradji mencantum dengan jelas statusnya sebagai anggota TNI AU. Itulah yang dipersoalkan Mabes TNI AU sehingga Adjie mendapat sanksi.









