SBY: Harga Pangan-Energi Naik, Kemiskinan Bertambah

SBYmaiwanews – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan, perlunya percepatan integrasi ketahahan pangan di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Bangsa-bangsa di muka bumi menghadapi kompetisi untuk memperoleh sumber-sumber penghidupan yang terbatas.

Hal itu diungkapkan SBY mengawali uraiannya terkait pangan dan energi sesaat sebelum membuka Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT ke-18 ASEAN) di Jakarta Convention Center (JCC), Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Sabtu 7 Mei 2011.

Menurut SBY, negara-negara di kawasan ASEAN saat ini juga menghadapi masalah bersama dalam hal ketahanan pangan dan ketahanan energi. Dikatakan SBY, penduduk dunia diproyeksikan tumbuh pesat dari 7 miliar tahun ini menjadi 9 miliar di tahun 2045.

Dunia saai ini kata SBY, sedang menghadapi harga pangan dan energi yang sangat fluktuatif dengan kecenderungan terus meningkat. Karena itu, negara-negara di ASEAN harus melakukan kerjasama yang nyata dan efektif untuk menjamin ketersediaan pangan rakyat.

Salah satu langkah cepat yang harus diambil kata SBY adalah pelaksanaan ASEAN Integrated Food Security Framework secara komprehensif, terutama dalam penelitian dan pengembangan, serta investasi dalam bidang pangan.

Dan secara khusus, yang perlu diperhatikan, lanjut SBY, adalah memformulasikan sistem cadangan pangan di ASEAN, yang juga dapat memungkinkan terbantunya para petani kita untuk keluar dari kemiskinan.

Tidak kalah pentingnya dengan pangan, menurut SBY, adalah masalah ketahanan energi. ASEAN harus mencari solusi yang inovatif, sebab sumber-sumber energi baru dan terbarukan, karena  sangat diperlukan untuk meningkatkan keanekaragaman pasokan energi dan mengurangi konsumsi energi yang berdampak negatif pada lingkungan.

SBY mengatakan, ketahanan pangan dan energi perlu di atas bersama-sama, sebab dampaknya buruk bagi kesejahteraan rakyat. Sejarah menunjukkan, kenaikan harga pangan dan energi, akan langsung mengakibatkan kenaikan jumlah penduduk yang miskin.

Pelaksanaan KTT ke-18 Asean yang akan berlangsung tanggal 7 hingga 8 Mei 2011 ini diikuti sembilan negara anggota ASEAN. Sebagai tuan rumah, Indonesia menyiapkan tiga agenda yakni pertama, memastikan dan mengkonsolidasi pencapaian ‘Komunitas ASEAN 2015.’

Kedua, memelihara kawasan yang aman dan stabil sehingga negara-negara di kawasan bisa melanjutkan pembangunan. Dan ketiga, menjadikan ASEAN berperan aktif dalam pemecahan masalah-masalah global.

Beberapa masalah seperti sengketa Laut China Selatan, upaya perlindungan pekerja migran di lingkungan negara ASEAN, persiapan KTT pertama Asia Timur (East Asia Summit) pada November mendatang di Indonesia, dan keinginan Timor Leste untuk menjadi anggota ASEAN, menjadi bahasan pada KTT kali ini.