Bojonegoro– Bulan suci bulan Ramadhan ternyata menjadi bulan yang berpengaruh untuk berhenti melanjutkan emosi para wanita di Bojonegoro untuk berniat melanjutkan perceraian dengan para suaminya ke Pengadialan Agama setempat. Ini terbukti dari angka perceraian di Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro ternyata menurun drastis.
Menurut kesaksian para penjaja jasa, baik itu Tukang Becak atau Penjual asongan mengatakan, di bulan seperti ini rata-rata sepi. “Kebanyakan mereka malas mengurus perceraian, karena sedang menjalani puasa. Disamping itu butuh waktu cukup lama, mas,” kata Rozi (40) penjual kopi depan kantor PA itu.
Menurut petugas pendataan kantor tersebut, Selasa, (31/08/2010) menyebutkan, pengajuan gugat cerai yang diterima sejak awal Agustus, termasuk sejak awal Ramadhan hanya 148 perkara.
Jumlah tersebut bisa dibilang sangat menurun dibandingkan dengan hari biasa, atau sebelum bulan puasa. “Pada bulan Juli misalnya, dalam sebulan jumlah pengajuan gugat cerai mencapai 216 perkara,” kata Panitera Muda Bidang Permohonan PA Kabupaten Bojonegoro, Sutardjo.
Diterangkan, lagi-lagi penyebab perceraian pada bulan Ramadhan ini masih karena keberadaan orang ketiga. “Faktor tersebut masih dominan di antara dengan penyebab lainnya,” jelasnya.
Ditanya mengenai penyebab turunnya angka pengajuan gugat cerai pada bulan Ramadhan ini, Sutardjo menegaskan, kepadatan kesibukan kemungkinan besar membuat orang malas mengurus polemik rumah tangga. “Meskipun pengajuan gugat cerai menurun, itu tidak menurunkan intensitas pekerjaan tapi di PA Bojonegoro. Tetapi, bisa dikatakan malah naik,” sambungnya.
Ia mengakui, para pegawai di PA saat ini sedang mempercepat penyelesaikan pengajuan gugat cerai tinggalan bulan sebelumnya. “Hingga saat ini total jumlah perkara sisa bulan lalu dan pengajuan baru mencapai 713 perkara,” tegasnya.
Diterangkan, para pengaju gugat cerai sengaja meminta berkasnya dikebut, karena mengejar malam 9 atau malam ganjil jelang Lebaran untuk merajut pernikahan kembali. “Sejauh ini, kasus perceraian di Bojonegoro masih didominasi oleh pengaju wanita. Pihak ketiga atau perselingkuhan, faktor ekonomi, dan tanggung jawab keluarga, menjadi tiga tertinggi yang mempengaruhi pernihakan bubar,” tambahnya. memet
Sanksi AS Menarget Perdagangan Minyak Iran-Tiongkok
Hardiknas di Makassar, Appi Gaungkan Pendidikan Inklusif dan Berkualitas
Prabowo Pimpin Rapat Percepatan Pembentukan Koperasi Merah
Danlantamal VI Ajak Insan Pers Olahraga Fun Shooting
Muhammadiyah-Pemkot Makassar Perkuat Sinergi Bangun Kota Makassar









