Gresik – Salah satu pabrik semen terbesar Indonesia, PT Semen Gresik Tbk (SMGR) mengalokasikan dana sekitar Rp 1,32-1,65 triliun untuk pembagian dividen pada tahun buku 2009 atau setara dengan Rp 222-278 per saham.
Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto mengatakan, dividen tersebut sekitar 30-40% dari laba bersih perseroan tahun lalu. “Tapi, keputusannya bergantung pada pemerintah selaku pemegang saham mayoritas,” katanya beberapa waktu lalu.
Hingga Maret 2010, total saham Semen Gresik tercatat sebanyak 5,93 miliar saham. Pemerintah Indonesia menguasai 51% saham perseroan, sedangkan Grup Rajawali melalui Blue Valley Holding Holdings Pte Ltd memiliki 24,9% saham, 24,1% saham dimiliki publik.
Perseroan berencana menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) pada pertengahan tahun ini yang salah satu agendanya adalah persetujuan pembagian dividen. Sebelumnya, SMGR telah membagikan dividen interim sebesar Rp 58 per saham pada 23 Desember 2009. Menurut Dwi, meskipun nantinya total dividen sekitar 30-40% dari laba bersih 2009, SMGR masih bisa berekspansi tahun ini.
Hingga akhir 2009, Semen Gresik membukukan laba bersih sekitar Rp 3,3 triliun, naik 30,95% dibanding 2008 sebesar Rp 2,52 triliun. Adapun pendapatan bersih perseroan naik 17,13% dari Rp 12,2 triliun menjadi Rp 14,29 triliun. “Kendati terkena dampak krisis, pendapatan dan laba bersih tetap tumbuh,” ujar Dwi.
Sekretaris perusahaan Semen Gresik Sunardi pernah mengatakan, volume penjualan konsolidasi sepanjang tahun lalu hanya naik 0,6% dari 17,65 juta ton menjadi 17,76 juta ton. Tipisnya kenaikan volume penjualan akibat ekspor perseroan merosot 38,6% dari 1 juta ton menjadi 616,46 ribu ton.
Volume ekspor turun akibat pelemahan permintaan semen di pasar internasional serta terganggunya produksi anak usaha, yaitu PT. Semen Padang. Sementara itu, penjualan semen perseroan untuk pasar domestik tumbuh 2,9% dari 16,65 juta ton menjadi 17,14 juta ton,” jelas Dwi.
Analis Bahana Securities Teguh Hartanto dalam risetnya mengungkapkan, pendapatan Semen Gresik pada 2010 diperkirakan mencapai Rp 15,9 triliun. Laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) diprediksi sekitar Rp 5,2 triliun dan laba bersih senilai Rp 3,68 triliun.
Sementara itu, rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (Price to earning ratio/PER) Semen Gresik akhir 2010 diperkirakan 11,9 kali, dengan rasio harga buku (price to book value/PBV) 3,9 kali. Pada 2010 dan 2011, tingkat utilisasi perseroan diproyeksikan dapat mencapai 100%, sehingga kapasitas produksi tahun ini bertambah sekitar 1,1 juta metrik ton (MT) dan total kapasitas menjadi 19,1 juta MT. Penambahan kapasitas tersebut belum termasuk dari pabrik baru masing-masing 2,5 juta ton.
Capex Rp 6 T
Tahun ini, Semen Gresik menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 6 triliun. Sebagian dana akan digunakan untuk membangun dua pabrik baru di Tonasa, Sulawesi Selatan dan Tuban, Jawa Timur.
Menurut Dwi, nilai investasi masing-masing pabrik seniai Rp 3,6 triliun. Namun, dana tersebut tidak dikeluarkan sekaligus tahun ini. Dengan pembangunan pabrik baru, kapasitas produksi semen perseroan akan meningkat sekitar 5-6 juta ton per tahun. “Kami menargetkan produksi semen pada 2012 mencapai 25 juta ton dan pada 2015 mencapai 29 juta ton, ” jelas Dwi. Proyek Semen Gresik lainnya yang akan dikembangkan tahun ini adalah pembangkit listrik di Tonasa berkapasitas 70 MW.