Wawasan Multikultur Bangsa Indonesia Rendah

diskusi-gerbang-indoneiaTahun 1980-an wawasan multikultur Indonesia mucul sebagai kritik terhadap penerapan demokrasi saat itu. Walaupun sejak Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk kesadaran multikultur sudah ada, namun pada masa orde baru kesadaran itu dipendam atas nama persatuan dan kesatuan.

Faham monokultural lebih dikedepankan sehingga wawasan multikultur menjadi sangat rendah. Bahkan ada pandangan bahwa multikultur merupakan wujud eksklusivitas. Wawasan itu dianggap mempertegas batas identitas antar individu, bahkan dipersoalkan masalah keasliannya.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dr. Ahmad Farhan Hamid, MS., menyampaikan hal itu dalam Diskusi Pergerakan Amanat Kebangsaan (Gerbang Indonesia) di Rumah PAN (Partai Amanat Nasional) Jl. Warung Buncit Raya No. 17 Jakarta Selatan, Kamis, 10 Februari 2011.

Acuan utama terbentuknya masyarakat multikultur adalah ideologi yang mengakui perbedaan dan kesederajatan baik secara individual maupun budaya. Model kulturalisme sebenarnya telah sebagai acuan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam mendesain kebudayaan bangsa. Sebagaimana penjelasan pasal 32 UUD 1945, “kebudayaan bangsa adalah puncak kebudayaan di daerah,” jelas Hamid.