maiwanews – Plan C Institute merilis tren pemberitaan media massa terhadap Presiden Jokowi (Joko Widodo) selama 100 hari pemerintahannya bersama Wapres JK (Wakil Presiden Jusuf Kalla). Jokowi-JK sejak dilantik 20 Oktober 2014 menjadi presiden dan wakil presiden diharapkan masyarakat dapat membawa perubahan menuju Indonesia hebat dan lebih baik sesuai janji-janji kampanye Jokowi sebagaimana diliput banyak media.
Peneliti Plan C Institute, Agus Yahya, mengatakan harapan besar terhadap sosok Presiden Jokowi tercermin dari pemberitaan banyak media di Indonesia yang cenderung positif sejak proses pencalonan menjadi Gubernur DKI Jakarta sampai menjadi presiden. “Diakui atau tidak, media berperan besar dalam mengantarkan suksesnya karir Joko Widodo”, kata Agus di Bogor Selasa 27 Januari 2015.
“Gaya kepemimpinan blusukan sebagai Gubernur DKI Jakarta begitu massif diberitakan banyak media saat itu, bahkan bisa dikatakan saat jadi gubernur DKI, tidak ada hari tanpa berita tanpa Jokowi”, lanjut Agus.
Megawati sebagai ketua umum partai pengusung Jokowi sendiri mengakui bahwa saat menjabat menjadi Gubernur DKI, Jokowi sebagai “media darling” berbeda dengan dirinya. Ada juga media membuat ruang khusus berisi liputan kiprah Jokowi sebagai gubernur DKI dari hari ke hari.
Pemberitaan positif akan sosok Jokowi yang terus menerus sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat dan pro rakyat tidak bisa dipungkiri menjadi modalitas penting dalam proses pencalonannya sebagai presiden RI. Hampir semua lembaga survei saat itu memposisikan Jokowi dalam rangking teratas jauh diatas kandidat presiden hingga pemungutan suara berlangsung. Akhirnya Jokowi didampingi JK menjadi pemenang pemilihan umum presiden dan wakil presiden dengan surat keputusan KPU yang dikuatkan dengan keputusan MK.
Setelah 100 hari pemerintahan Jokowi-JK, ada banyak peristiwa mengiringi dan banyak kebijakan sudah diambil. Bagaimana Setelah 100 hari bekerja, bagaimana tren pemberitaan media terhadap sosok Presiden Jokowi. Hal ini penting mengingat Jokowi sebagai sosok presiden yang pada awalnya dibesarkan oleh media. Paling tidak, media berperan besar dalam mengantarkan Jokowi-JK menduduki jabatannya sekarang.
“Kami mengambil 6 media untuk dianalisis pemberitaannya terkait sosok Jokowi. Keenam media tersebut adalah twitter.com, kompas.com, tempo.co, okezone.com, detik.com, dan kaskus.co.id. Dari pemberitaan sampel media yang ada bisa diklasifikan cenderung positif, netral atau negatif. Analisa dilakukan mulai dari pelantikan Jokowi sebagai presiden tanggal 20 November 2014 sampai dengan tanggal 26 Januari 2015 jam 23.19.
Berikut hasil analisis di 6 media berita dan sosial, tren pemberitaan media tentang Presiden Jokowi.
Dalam 100 hari kerja, tren pemberitaan media tentang Presiden Jokowi 22,2 % positif, 5,6 % netral dan 72.2 % negatif. Sehingga bisa disimpulkan 100 hari kerja pemerintahan kabinet kerja tren media cenderung memberitakan negatif tentang Presiden Jokowi. Beberapa keputusan dan peristiwa yang diduga mempengaruhi secara signifikan tren pemberitaan menjadi negatif yaitu kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dan perseteruan Polri dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Kenaikan harga BBM sebesar 2000 rupiah dari 6500 menjadi 8500 banyak menyumbang pemberitaan negatif tentang Jokowi. Ada banyak elemen melakukan demonstrasi setelah kebijakan ini. Hal ini dikarenakan dampak kenaikan BBM diikuti naiknya harga barang sektor lainnya termasuk harga sembako yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat.
Penurunan dua kali harga BBM tidak banyak berpengaruh terhadap opini masyarakat sehingga pemberitaan soal penurunan harga BBM tidak begitu massif. Oleh karena itu tren pemberitaan media mengenai peristiwa ini cenderung negatif.
Persetuan dua lembaga penegak hukum Polri dan KPK turut menyumbang pemberitaan negatif. Bebapa pihak menyebutnya sebagai peristiwa Cicak Vs Buaya jilid II. Ketegangan dua institusi tersebut berawal ditetapkannya calon tunggal Kapolri Komjen BG (Budi Gunawan) sebagai tersangka oleh KPK. Penetapan tersangka kemudian diikuti dengan penangkapan Komisioner KPK BW (Bambang Widjojanto) oleh Bareskrim Polri.
Banyak media memberitakan dugaan penangkapan Wakil Ketua KPK BW merupakan serangan balik dari Polri. Atas peristiwa ini banyak pihak menilai Presiden Jokowi tidak tegas menengahi ketegangan konflik tersebut dan cenderung bertindak normatif sehingga trend pemberitaan media cenderung negatif. (m011)
Polisi Ungkap Kasus Pembunuhan di Tukdana, Indramayu
Presiden Luncurkan PHTC, Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Teknologi Digital
Pangsa Mobil Listrik Porsche Naik, Macan Model Terlaris di Kuartal Pertama 2025
Prabowo Umumkan Pemberian THR dan Gaji ke-13 bagi Aparatur Negara
Blinken Sampaikan Pernyataan Terkait Meninggalnya Jimmy Carter









