Benarkah Pengakuan Fahmi Soal Penalti Firman Utina?

firman-utina-maiwanewsmaiwanews – Banyak kalangan yang menilai, kegagalan Firman Utina mengeksekusi penalti dalam final leg terakhir, menjadi satu faktor penentu Timnas Indonesia akhirnya gagal menjadi juara AFF Cup 2010.

Saat pertandingan yang berlangsung di Gelora Bung Karno (GBK) 29 Desember 2010 itu, tendangan kaki kanan Firman dari titik kotak penalti pada menit 18, mampu dengan mudah ditangkap penjaga gawang Timnas Malaysia, Khairul Fahmi.

Fahmi ‘membuka’ rahasia keberhasilannya menahan tendangan kapten Timnas itu. Menurutnya, ia sudah mengetahui sebelumnya bahwa Firman akan menendang si kulit bundar itu ke arah kiri berdasarkan kebiasaan Firman selama ini.

“Aku memang sudah tahu Firman akan menendang ke arah kiriku. Ini karena Pelatih Rajagobal sudah memebritahu kami kalau dia memang seringkali menendang ke arah situ,” kata Fahmi.

Bahkan Fahmi memuji pelatih Timnas Malaysia, Rajagobal sebagai satu faktor mengapa timnya menjuarai Piala AFF. Fahmi mengaku dirinya merasa beruntung telah menuruti instruksi pelatihnya itu terkait penalti Firman.

Tapi benarkan kegagalan penalti Firman itu karena Fahmi sebelumnya telah mengetahui sebelumnya kebiasaan arah bola Firman setiap mengeksekusi penalti seperti yang diakuinya?

Namun pengakuan Fahmi itu diragukan oleh beberapa pihak, salah satunya adalah Zulkifli, seorang supporter Timnas Indonesia yang juga seorang pengacara. Menurutnya, selama laga AFF, Firman belum pernah sekalipun menjadi eksekutor penalti.

“Darimana Rajagobal tahu kalau Firman mempunyai kebiasaan menendang ke arah kiri?’ kata Zulkifli dalam perbincangan dengan maiwanews, Sabtu, 1 Januari 2011.

Lagipula lanjutnya, pemain bola sekelas Firman, sepertinya mustahil punya kebiasaan ‘buruk’ seperti dikatakan Fahmi itu. “Firman kan kapten, setidaknya Riedl telah melihat ada kematangan di diri Firman,” katanya.

Dalam final terakhir melawan Malaysia, tim asuhan Alfred Riedl itu menang 2-1, namun karena kalah agregat 2-4 akibat kalah 0-3 pada leg pertama di Bukit Jalil, Indonesia gagal menjuarai ajang sepakbola terbesar se Asia Tenggara itu.