Bencana Banjir Akhir Tahun Mulai Mengancam

BOJONEGORO – Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir, membuat ketungguan air di Sungai Bengawan Solo mulai menaik dan mengancam ratusan hektar pemukiman dan persawahan. Kondisi seperti ini hampir bisa dipastikan terjadi tiap tahun.

Kawasan yang rentan serangan banjir di antaranya Kecamatan Malo, Kalitidu, Dander, Kota, Kanor, Baureno serta Kecamatan Kapas serta Kecamatan Balen.

Hingga kemarin, ketinggian air pada papan duga di Taman Bengawan Solo (TBS) 14,02 meter, atau siaga II.

Diperkirakan setiap jam permukaan air Bengawan Solo mengalami kenaikan antara 4-6 centimeter.

Berkaitan itu Satlak PB Pemkab Bojonegoro sejak kemarin mulai melakukan pemantauan ketinggian air Bengawan Solo setiap jam sekali. Ini karena ada kecenderungan ketinggian air terus merangkak naik.

“Ini sudah masuk siaga banjir tingkat II,” kata Kasi Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Bojonegoro, Sutardjo.

Dijelaskan, pelbagai persiapan menghadapi kemungkinan Bengawan Solo meluap dan menimbulkan banjir terus dilakukan dengan menyiapkan berbagai kebutuhan. Mulai dapur umum, sarana evakuasi perahu karet, juga kebutuhan lainnya.

“Baik yang datang banjir besar, sedang atau kecil, kami sudah melakukan persiapan, termasuk petugas penanggulangan banjir di wilayah pedesaan,” ingkap Sutardjo.

Berdasar data di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, naiknya air sungai terpanjang di Pulau Jawa ini, berasal dari air hujan di wilayah Ngawi dan lokal Bojonegoro.

Air Bengawan Solo di Ngawi juga naik. Tapi jika air Bengawan Solo, di Solo, tidak ada laporan masuk berarti kondisi masih di bawah siaga banjir.

Sementara hujan yang terjadi di wilayah selatan Bojonegoro juga mengakibatkan sejumlah desa di Kecamatan Dander, Bojonegoro, diterjang banjir bandang.

Hujan yang terjadi di wilayah selatan yang dulunya merupakan areal hutan jati, mengakibatkan pemukiman warga Desa Sembung, Tapelan dan Bangilan, di Kecamatan Dander, diterjang banjir bandang. Ketinggian banjir berkisar setegah meter.

Selain itu, banjir juga merendam ratusan hektar areal tanaman padi di wilayah setempat, baik yang siap panen atau yang masih berusia sekitar sebulan. Tidak ada kerugian berarti akibat banjir bandang tersebut.