BI Tahan Penguatan Rupiah (hanya) Untuk Kepentingan Eksportir

Uang rupiahmaiwanews – Menyusul nilai tukar rupiah yang kini terus menguat terhadap dolar AS, Bank Indonesia (BI) malah terus berupaya menahan laju penguatan rupiah yang terlalu cepat. Upaya BI itu rupanya dilakukan untuk kepentingan eksportir agar tidak menderita.

“Kalau dilepas iya (menguat terus), tapi BI juga bisa berperan menahan supaya jangan terlalu kuat rupiahnya karena kalau terlalu kuat nanti eksportir kita menderita,” kata Pjs Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution di Gedung BI, Jl. MH Thamrin Jakarta, Jumat, 25 Juni 2010.

Pergerakan nilai tukar rupiah saat ini menurut Darmin, lebih banyak dipengaruhi oleh keluar masuknya modal. Menurutnya, fundamental rupiah seharusnya bergerak pada kisaran 9.100-9.200 per dolar AS. Namun faktanya, rupiah bergerak pada kisaran 9.000-9.300-an per dolar AS.

“Nah, sekarang ini rupiah 9 ribu berapa puluh, itu berarti arus modal nggak ada yang keluar. Malah kecenderungannya arus modal masuk,” ujar calon Gubernur BI itu menjelaskan.

Seperti diketahui, kebijakan pemerintah dalam mengejar pertumbuhan ekspor Indonesia, berdasarkan nilai ekspor, bukan volume. Itu berarti, nilai tukar rupiah yang kuat dianggap menghambat target pertumbuhan ekspor. Karena itu, pemerintah berkepentingan mempertahankan nilai tukar rupiah pada angka tertentu.

Padahal jika nilai tukar rupiah menguat, masyarakat luaslah yang sangat diuntungkan. Karena jika nilai tukar rupiah kuat, daya beli masyarakat terhadap produk-produk tertentu akan menguat, karena harga barang-barang akan jauh lebih murah.