maiwanews – Sebuah fasilitas untuk menampung bayi-bayi terlantar sedang dipersiapkan di kota Shenzhen propinsi Guangdong Cina, diperkirakan akhir Januari tahun depan sudah bisa beroperasi. Cina pertama kali membuat fasilitas penanganan bayi terlantar pada Juni 2011 di Shijiazhuang propinsi Hebei dan telah menangani sekitar 170 anak. Sementara untuk propinsi Guangdong, Shenzhen merupakan kota pertama dengan fasilitas seperti ini.
Diperkirakan penampungan bayi terlantar di kota Shenzhen akan menelan biaya sebesar 150.000 yuan atau 24.600 dollar. Diharapkan pusat kesejahteraan Shenzhen Welfare Center dapat memberikan kenyamanan bagi bayi-bayi terlantar. Direktur Shenzhen Welfare Center Tang Rongsheng mengatakan jumlah anak terlantar di kota Shenzhen pada tahun 2009 mencapai 200 orang.
Menurut Tang, fasilitas tersebut bertujuan untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi bayi, tempat tersebut dibuat dengan kondisi lingkungan, suhu, dan ventilasi memadai untuk para bayi. Ruang berukuran 10 meter persegi akan dilengkapi dengan inkubator, tempat tidur, alarm, kipas ventisali, penyejuk udara, dan detektor infra merah untuk mendeteksi penyusup.
Meski Tang telah menyatakan fasilitas tersebut untuk kenyamanan bayi, namun beberapa pihak bersikap skeptis, seorang warga Shenzhen berumur 48 tahun, Lin Xin, mengatakan akan lebih banyak terjadi kasus penelantaran anak karena orang-orang berfikir pemerintah setempat akan mengurusi masalah mereka. Menurutnya, orang seharusnya berfikir lebih matang sebelum memiliki bayi, dia menyebutnya sebagai sebuah tanggung jawab.
Liu Qinyuan, seorang karyawan bank manganggap program ini tidak akan memuaskan, pemerintah harusnya meningkatkan kesadaran masyarakat. Sementara Luo Chunchang, seorang warga Shenzhen mengatakan pemerintah harus berinvestasi lebih banyak dalam membantu orang tua membesarkan anak mereka dengan benar, atau mendidik mereka menghargai kehidupan.
Kekhawatiran masyarakat juga terjadi di propinsi Jiangsu, dimana akan dibangun tempat serupa di kota Nanjing akhir tahun ini. Yu Fangqiang, koordinator Tianxiagong (Justice for All), mengemukakan bahwa fasilitas tersebut tidak cukup menyelesaikan masalah mendasar, semua masyarakat harus bekerja sama untuk mendidik orang tua bahwa meninggalkan bayi adalah ilegal dan tidak bermoral. Tianxiagong merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berbasis di Nanjing, aktif menyuarakan masalah-masalah terkait kesejahteraan, kebajikan, dan kesetaraan. (R21/China Internet Information Center)









