Filipina Manfaatkan Energi Panas Bumi Untuk Listrik

Sejak tahun 1970-an Filipina telah memanfaatkan energi panas bumi, hingga dewasa ini 27% produksi listrik negara tersebut berasal dari energi panas bumi. Filipina merupakan negara terbesar kedua setelah Amerika Serikat dalam hal pemanfaatan energi panas bumi.

Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) Filipina tersebar di pulau Luzon, Negros, Mindanao dan Leyte. Berdasar data dari Renewable Energy Management Bureau, Department of Energy (DOE) Filipina, kapasitas PLTP terpasang hingga 2009 sebesar 2.027 MW. Hingga tahun 2030 ditargetkan kapasitas PLTP terpasang akan bertambah 1.070 MW, sehingga total kapasitas terpasang pada 2030 di Filipina akan menjadi 3.097 MW.

Filipina memulai pengembangan pemanfaatan energi panas bumi pada tahun 1967 saat Pemerintah mengesahkan Undang-undang Panas Bumi. Satu tahun kemudian ditemukan sumber daya panas bumi oleh Tiwiby COMVOL. Selanjutnya pada 1969, COMVOL menghasilkan uap untuk menggerakkan turbo-generator. Pada 1970, COMVOL-NSDB menyelesaikan studi penelitian pendahuluan di Tiwi. Setelah itu ditemukan potensi lapangan-lapangan panas bumi lainnya di Filipina.

Saat ini setidaknya terdapat 8 lapangan panas bumi yang telah dikembangkan di Filipina, yaitu Makban (426 Mwe), Tiwi (330 MWe), Tongonan–1 (112.5 MWe), Leyte (606 MWe), Palinpinon (195 MWe), Bacon-Manito (152 MWe), Mt Apo (108 MWe), dan Nor. Negros (49 MWe).

Pengembangan panas bumi di Filipina antara lain didukung oleh biaya modal rendah, tidak adanya biaya valuta asing untuk bahan bakar, unit-unit kecil, serta dampak lingkungan kecil. (KO/Kementerian ESDM/aso)