Jakarta – Inggris dan Indonesia sepakat akan meningkatkan kerjasama perdagangan dan investasi. Kesepakatan tersebut dicapai ketika Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, Mahendra Siregar menerima kunjungan Direktur Eksecutif UK Trade & Investment (UKTI) Sir Andrew Cahn di kantor kementrian Perdagangan Indonesia 9 Maret 2010.
Kunjungannya ini merupakan kelanjutan pertemuan yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan, Investasi dan Usaha Kecil Inggris, Lord Davies of Abersoch dan Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu di Indonesia pada bulan November tahun lalu. Selain bertemu dengan Wakil Menteri Perdagangan, Sir Andrew Cahn beserta rombongan juga akan bertemu dengan Wakil Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan pejabat resmi lainnya.
Dalam pertemuan ini, Wamendag dan Sir Andrew Cahn sepakat untuk meningkatkan kerjasama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Inggris. Kedua negara merupakan pasar yang potensial dan masih banyak peluang bisnis yang dapat dikembangkan oleh kedua negara. “Kami akan selalu terus tingkatkan hubungan bilateral kedua negara baik perdagangan maupun investasi, karena kami yakin peluang dan potensi perdagangan serta investasi kedua negara masih sangat terbuka lebar,” kata Wamendag.
Sejalan dengan tujuan kunjungan untuk membahas cara-cara untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi, pertemuan Wamendag dan Sir Andrew kali ini membahas isu-isu terkait regulasi nasional mengenai produk-produk antara lain farmasi/obat dan turbo jet, turbo-propellers dan turbin gas serta alkohol terkait dengan regulasi impornya.
Menurut Sir Andrew, Indonesia adalah negara yang berkembang begitu pesat, tidak hanya dalam terminologi Pendapatan Perkapita, Indonesia juga memiliki suara yang kuat di G20 dan sebuah negara yang memiliki perkembangan perekonomian yang pesat. Di saat negara-negara di dunia terpuruk oleh krisis global, Indonesia mampu mencapai tingkat pertumbuhan yang mengesankan.
Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu negara yang paling penting di masa depan karena pertumbuhan ekonomi yang terbaik di Asia Tenggara. Inggris menyambut baik investasi dari Indonesia, dan perusahaan-perusahaan Inggris tertarik untuk mengeksplorasi potensi investasi di Indonesia.
Total perdagangan Indonesia dengan Inggris pada periode tahun 2004-2009 cenderung mengalami kenaikan. Meski terjadi sedikit penurunan di tahun 2005 (US$ 1.936,83 juta) dibanding tahun 2004 (US$ 1998,49 juta), total perdagangan pada tahun-tahun selanjutnya mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada tahun 2006 (US$ 1936,83 juta) mengalami kenaikan menjadi US$ 2.108,15 juta (2007) dan menjadi US$ 2614,44 juta di tahun 2008. Sementara total perdagangan periode Januari-Oktober 2009 senilai US$ 1.937,66 juta.
Total ekspor dalam kurun waktu 2004-2008 juga meningkat. Pada tahun 2004, nilai ekspor mencapai US$ 1.295,3 juta, mengalami sedikit penurunan menjadi US$ 1.291,5 juta (2005), kemudian meningkat kembali menjadi US$ 1.432,4 juta (2006), US$ 1.454,2 juta (2007) dan US$ 1.546,9 juta (2008). Nilai ekspor periode Januari-Desember 2009 mencapai US$ 1.431,5 juta. Sementara untuk kinerja impor periode 2004-2009 cenderung fluktuatif, nilai impor tahun 2004 mencapai US$ 702,5 juta, turun menjadi US$ 645 juta (2005), US$ 552,7 juta (2006), US$ 653,4 juta (2007) dan US$ 1.066,7 juta (2008). Nilai impor periode Januari-Desember 2009 mencapai US$ 844 juta. Komoditi ekspor utama Indonesia ke Inggris antara lain adalah sepatu/alas kaki, kayu lapis, tekstil, pakaian jadi, elektronik, mainan anak-anak, kopi, coklat, furnitur dan rempah-rempah. Sementara komoditi ekspor Inggris adalah mesin dan peralatan.
Menurut data dari BKPM, total investasi Inggris di Indonesia selama 4 tahun terakhir mencapai US$ 3,45 miliar dengan proyek sejumlah 230 proyek.
Investasi yang dilakukan di Indonesia lebih banyak bergerak di bidang industri kimia, barang logam, pertambangan, real estate/kawasan industri, transportasi dan komunikasi, industri makanan, perdagangan, hotel dan restoran, serta elektronik dan jasa. Di samping itu, perusahaan Inggris (British Petroleum) merupakan salah satu investor penting dalam bidang migas di Indonesia. Total investasi Inggris di Indonesia selama periode Januari-Desember 2009 mencapai US$ 587,7 juta dari total 61 proyek (data BKPM per Maret 2010) yang menduduki peringkat ke-5 di bawah Singapura, belanda, Jepang dan Korea Selatan.
Selain itu, pada pertemuan ini juga dibahas mengenai kemungkinan dijajakinya kerjasama teknik dan peningkatan kapasitas (capacity building) berupa pelatihan jangka pendek dengan UKTI, The British Retail Consortium (BRC) dan British Standard Institute (BSI). Seperti kerja sama di sektor perikanan yang sudah terjalin dengan Grimsby Institute, yang memberikan bantuan tentang isu-isu kesehatan dan kebersihan di Eropa. Kemendag dan UKTI akan mengembangkan program-program seperti ini agar dapat menguntungkan Inggris dan Indonesia.
Pada pertemuan kali ini, Sir Andrew Cahn selain didampingi oleh Christine Leaver (Head UK Trade & Investment’s Emerging Market Policy Team, London), Debbie Clarke (Direktur UK Trade & Investment, Jakarta), juga membawa beberapa pelaku bisnis seperti Stephen Rayfield dan Ben Skapoullou (Marks & Spencer), Marin Bell (Scotch Whisky Association), John Galvin (Diageo), Chris Wright (G4S) dan VP Sharma dan Ria Hanityo (PT Mitra Adiperkasa)
Porsche AG Percepat Langkah Restrukturisasi Perusahaan
Indonesia-Australia Komitmen Wujudkan Perdamaian dan Kemakmuran Regional
India-Pakistan Sepakat Gencatan Senjata
Bertemu Prabowo, Bill Gates Puji Komitmen Indonesia dalam Kesehatan dan Pertanian
Dunia Akui Ketahanan Pangan Indonesia, Kata Prabowo









