Satu lagi BUMN yang mempunyai nilai strategis dijual oleh pemerintah yaitu Garuda Indonesia, dikatakan strategis karena Garuda Indonesia adalah airlines yang merupakan flag carrier bagi Indonesia, serta Garuda Indonesia hampir menguasai semua pangsa pasar domestik.
Garuda Indonesia juga merupakan satu satunya airlines dengan hak mengangkut jemaah haji Indonesia setiap tahun, tentu saja catatan di atas merupakan nilai strategis dari BUMN penerbangan ini tapi sungguh sangat di sayangkan akhirnya pemerintah menjual Garuda Indonesia dengan dalih untuk lebih transparan dalam penegelolaannya, dan alasan transparanlah yang selalu dijadikan alasan pemerintah untuk melakukan penjualan besar besaran BUMN milik rakyat Indonesia.
Garuda telah melepas saham baru 6,335 miliar lembar kepada publik. Ini setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Dengan harga pelaksanaan Rp 750 per lembar maka diharapakan dana yang dapat Rp 4,751 triliun. Namun hasil dari Initial Public Offering (IPO) Garuda Indonesia tidak begitu signifikan, malah cenderung menurunkan company value dari garuda Indonesia dan Debut awal saham maskapai plat merah PT Garuda Indonesia Tbk mengecewakan karena langsung melemah. Seperti diketahui, harga saham Garuda pada pencatatan saham perdana dibuka turun Rp 50 ke level Rp 700 dari harga perdananya Rp 750 per lembar. Dan saham Garuda turun sampai berada di kisaran Rp 650 per lembar saham, dan sempat menyentuh harga terendah di Rp 580 per lembar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 47,48% atau 3.008.406.725 lembar saham dari total saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terserap oleh penjamin emisi karena sepinya permintaan. Hanya 3.327.331.275 lembar yang terserap oleh pasar, baik melalui pooling ataupun institusi.
Peyebab kurang minatnya investor terhadap saham Garuda juga disebabkan Uang hasil IPO Garuda tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham perdana. Saham Garuda milik BMRI sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar. Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk BMRI Rp 1,451 triliun.sehingga investor akan berpikir kembali untuk membeli saham Garuda sebab sama saja investor beli utang Garuda kepada Bank Mandiri.
Peyebab dari tidak terlalu berminatnya investor untuk membeli saham Garuda dan sepinya permintaan saham garuda adalah dikarenakan kondisi harga minyak dunia yang tidak stabil serta cenderung tembus pada kisaran 100 US dollar/barrel, tentu saja ini akan berpengaruh terhadap biaya operasional Garuda, sementara daya beli di dalam negeri semakin menurun akibat inflasi tentu saja ini akan mempengaruhi keuntungan Garuda indonesia yang berujung pada rendahnya penerimaan deviden. apalagi saat ini Pertamina dalam penjualan fuel untuk pesawat terbang dengan sistim cash and carry, sehingga ini juga akan meyebabkan terganggunya cash flow Garuda,
Dari naiknya harga minyak dunia sendiri sudah memakan satu BUMN yang bergerak dipenerbangan yaitu Merpati airlines yang merupakan anak perusahaan garuda Indonesia dimana, Pertamina tidak lagi memberikan utangan Fuel dan meminta sistim Cash and carry.
Peyebab lainya adalah keadaan ekonomi makro dalam pemerintahan SBY cenderung makin merosot dan pengangguran semakin meningkat, serta ketidak mampuan dari pemerintah SBY dalam menjaga keadaan keamanan nasional yang kondusif seperti kejadian Cikeusik dan pembakaran gereja di Temanggung dan menjadikan country risk yang meningkat tentu ini menjadi catatan investor asing untuk membeli saham Garuda Indonesia, sedang untuk investor dalam negeri tentu akan berpikir ulang juga untuk membeli saham Garuda melihat kondisi. jadi bisa disimpulkan bahwa Pemerintahan SBY sudah tidak dipercaya lagi kinerjanya dan integritasnya oleh investor lokal dan luar negeri.
Penulis: Arief Poyuono, SE (Ketua Presidium Nasional Komite Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu)
India-Pakistan Sepakat Gencatan Senjata
Indonesia-Uzbekistan Perkuat Kerja Sama Keagamaan dan Pendidikan
Kepuasan Publik Terhadap Pemerintahan Prabowo Capai 80 Persen
Blinken Sampaikan Pernyataan Terkait Meninggalnya Jimmy Carter
Pengendalian Ekspor China Berdampak Terhadap Sektor Energi Bersih dan Pertahanan Amerika









