maiwanews – Sistem Transportasi Perkotaan di Jakarta akan dibenahi pemerintah. Elly Adriani Sinaga mengatakan, angkutan bus sedang, seperti Metro Mini dan Kopaja, harus menggunakan pendingin udara (AC).
“Aturan-arutannya masih terus kita kaji,” ujar Direktur Bina Sistem Transportasi Perkotaan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Elly Adriani Sinaga, di Jakarta, Senin 28 Juni 2010.
Pembenahan sistim transportasi perkotaan itu dilakukan dengan menerapkan sistem Standar Pelayanan Maksimum (SPM). Dalam SPM itu, selain AC, juga akan diatur mengenai berbagai hal seperti kondisi bus, frekuensi bus, dan juga akses masyarakat kepada angkutan itu.
Hal yang akan dilakukan diantaranya adalah pembatasan jumlah penumpang pada setiap armada Metro Mini yang hanya 30 orang. “Saat ini angkutan tersebut kerap mengangkut penumpang lebih dari kapasitas. Akibatnya, kenyamanan bagi penumpang tidak terpenuhi,” kata Elly Adriani.
Kebijakan ini, juga dilakukan untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan terutama angkutan dalam satu ruas jalan. Seperti yang terjadi di Jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, Salemba Raya, Matraman, Antasari, Casablanka, dan Dr Sahardjo.
Sehingga nantinya jalan utama hanya akan dilalui bus TransJakarta, bus besar (PPD) dan bus sedang seperti metromini sebagai sarana transportasi, sedangkan Mikrolet diusulkan ditempatkan di kawasan pemukiman dan sebagai feeder untuk transportasi di jalan utama.
Persoalan tarnportasi di Jakarta saat ini, kondisinya memang sangat memprihatinkan. Beberapa persoalan sudah identik dengan keberadaan bus ukuran sedang itu. Padahal, moda transportasi itu merupakan sarana tranportasi sebagian besar masyarakat Jakarta, baik kalangan bawah maupun menengah.
Jika menyebut Metro Mini dan Kopaja, maka yang terbayang adalah supir ugal-ugalan, asap knalpot hitam pekat, tempat duduk yang sangat berhimpit, area penumpang berdiri yang pendek, hingga penumpang yang sering dioper ke bus lain.
Namun harapannya, pembenahan itu nantinya bukanhanya dilakukan di tengah kota yang berhimpitan dengan Transjakarta saja. Karena persoalan serupa juga terjadi di daerah pinggiran Jakarta dan wilayah-wilayah penyangga Jakarta.









