Jakarta – Meskipun utang lama masih cukup besar, PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) masih berniat mencari tambahan pinjaman baru untuk anggaran tahun ini. Jjumlah pinjaman yang dibutuhkan perusahaan penerbangan milik negara itu adalah sebesar Rp
489,8 Miliar.
Dana sebesar itu, sebagian akan digunakan untuk menambah 20 pesawat sewa. Hal itu dikemukakan oleh Direktur Keuangan MNA Robby Quento usai mengikuti RDP dengan Komisi VI DPR, di Gedung DPR, Senayan Jakarta, Kamis, 29 April 2010.
Sebagai perusahaan negara, opsi usulan penambahan utang tersebut diharapkan mendapat persetujuan DPR. “Itu usulan penambahan (utang Rp 489,8 miliar), salah satu opsi, belum disetujui,” kata Robby.
Selanjutnya usulan pinjaman tersebut rencananya akan diajukan ke PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Utang tersebut akan digunakan untuk menambah armada sekitar 20 pesawat kecil untuk menjangkau daerah terpencil sekaligun untuk menambah modal kerja perseroan tahun ini.
“Oleh karena itu restrukturisasi atas utang-utang Merpati merupakan salah satu program yang wajib dilaksanakan melalui skema-skema penyelesaian yang tidak terlalu memberatkan, namun dapat memberi kepastian bagi para kreditur atas pengembalian utang-utang tersebut,” demikian Robby.
Selain pinajam Rp. 489 miliar itu, PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) akan segera mendatangkan 15 armada baru jenis MA-60 senilai USD 232 juta pada Juni 2010 ini. “Armada MA-60 ini direncanakan beroperasi pada Juni 2010, senilai USD 232 juta,” ujar Robby Quento.
Dana USD 232 juta tersebut menurutnya diperoleh dari pinjaman lunak (soft loan agreement/SLA) pemerintah Cina dan Exim Bank China. Robby mengatakan 15 pesawat MA-60 ini berkapasitas 54 kursi (seat) dan khusus untuk angkutan feeder pada landasan pendek sepanjang 1.400 m.
Merpati Nusantara Airline adalah salah satu penerbangan yang dimiliki negara dan selama ini dalam operasinya khusus menangani rute-rute perintis di daerah terpencil yang tentunya memiliki bandara kecil pula. Rute yang cenderung dihindari oleh maskapai-maskapai lain.
Menurut Robby, saat ini, outstanding utang perusahaan penerbangan yang dipimpinnya itu mencapai Rp 2,65 triliun. Salah satu faktor utama yang memperburuk kinerja keuangan Merpati dalam beberapa tahun terakhir adalah jumlah utang dan beban bunga yang sangat besar.
Operasi SAR Sisir Daratan dalam Pencarian Iptu Tomi Samuel Marbun
Pemerintah Siapkan 21 Proyek Hilirisasi Tahap Pertama Senilai Rp657,6 Triliun
Pemerintah Bahas Strategi Penguatan Investasi Mobil Listrik
Indonesia-Jepang Tandatangani dan Bertukar Nota Pinjaman 90 Miliar Yen
Pemerintah Minta Apple Investasi di Indonesia $1 Miliar









