Impian panjang dalam tidur ribuan warga sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo di daerah hilir Jatim mulai Bojonegoro, Tuban, Lamongan hingga Gresik, bersekutu dengan banjir tahunan, nampaknya benar-benar antiklimak. Waduk Jipang yang diplot sebagai ikhtiyar mengurai banjir nampaknya cuma impian belaka. Â
—————-Â Â
Begiulah akhirnya. Asa warga terbebaskan dari banjir akibat meluapnya Bengawan Solo hampir sepanjang tahun, bakal kian panjang. Sepanjang generasi turun temurun dari waktu ke waktu yang senantiasa disuguhi dongeng perjuangan Ratu Buaya dengan kesaktiannya mampu membendung luapan amuk bah. Ini setelah hampir pasti proyek Waduk Jipang, di perbatasan Jatim dan Jateng yang selama ini dianggap paling tepat sasaran mengendalikan banjir luapan sungai terpanjang di Jawa itu, makin tak pasti.
Padahal, dengan merealisasikan Waduk Jipang, permasalahan banjir di daerah hilir Jatim yang rutin terjadi setiap tahun, besar kemungkinan bisa dihilangkan. Tidak hanya itu, keberadaan Waduk Jipang yang mampu menampung air 930 juta meter kubik, juga bermanfaat mengatasi kekeringan di daerah hilir Jatim.
Namun, dengan memperhitungkan beratnya masalah sosial, Pemerintah terpaksa menenggelamkan konsep pembangunan megaproyek Waduk Jipang yang diperkirakan pembangunannya menelan dana Rp10 triliun. Di antaranya, merealisasikan Waduk Jipang harus memindahkan sekitar 120 ribu jiwa warga di daerah Jateng dan Jatim, belum termasuk menyangkut masalah teknik pembangunan waduk.
Agaknya, yang paling realistis sekarang ini, mempersiapkan warga sekitar hilir sungai terpanjang di Pulau Jawa sepanjang lebih dari 600 Km, untuk selalu siap menerima dan menghadapi banjir akibat meluapnya Bengawan Solo.
Terkait kepentingan itu, PMI Cabang Bojonegoro bekerja sama dengan Palang Merah Norwegia, secara berkala melakukan pelatihan warga yang tinggal di daerah langganan banjir.
“Sebab, banjir luapan Bengawan Solo masih akan terus terjadi,” terang Sekretaris PMI Cabang Bojonegoro, Suko H Widodo.
Menurut Suko, dalam tahap awal warga yang mendapatkan pelatihan menjinakkan banjir Bengawan Solo adalah warga Desa Sarirejo, Mulyorejo dan Pilanggede, Kecamatan Balen, yang lokasinya berada di tepian Bengawan Solo tak bertanggul.
Warga di tiga desa tersebut, selalu paling awal terkena banjir luapan Bengawan Solo, dibandingkan dengan desa lainnya di Bojonegoro. Tidak hanya itu, tim penanggulangan bencana banjir di Bojonegoro, juga sering lupa memberikan bantuan warga di tiga desa itu, karena lokasinya sulit dijangkau dari jalan raya.
“Setiap kali datang banjir, warga di desa kami menganggur. Pekerjaannya, hanya makan dan tidur selama banjir terjadi, yang biasanya bisa berulang beberapa kali,” ungkap Kepala Desa Sarirejo, Kecamatan Balen, Niti Suparlan.
Pelatihan dimaksud, dilakukan dengan cara mengerahkan 30 relawan yang terjun langsung di tiga desa itu. Relawan tersebut, akan bekerja selama dua tahun, ikut mendampingi warga di tiga desa itu dalam mempersiapkan diri sebelum banjir, ketika banjir dan setelah banjir.
Persiapan yang dilakukan, mulai menyangkut lokasi pengungsian, dan pekerjaan yang bisa dikerjakan warga selama banjir. Direncanakan, konsep tersebut akan dikembangkan di daerah lainnya, di Bojonegoro yang warganya juga selalu rutin dilanda banjir Bengawan Solo, sehingga bisa menjadi salah satu bagian dari konsep living harmony with flood atau hidup harmonis dengan banjir.
Seperti diketahui, Bengawan Solo yang berhulu di Jateng, dan sepanjang 300 kilometer di antaranya berada di daerah hilir Jatim, selalu menimbulkan permasalahan banjir setiap musim hujan. Berdasarkan data teknis, debit banjir yang terjadi di daerah hilir besarnya bisa mencapai lebih dari 3.000 meter kubik per detik. Sementara bank full capacity (palung sungai) Bengawan Solo di daerah hilir, hanya berkisar 900-1.200 meter kubik per detik.
Akibatnya, luapan Bengawan Solo yang debitnya bisa mencapai 2.000 meter kubik/detik, meluber merendam areal pertanian, pemukiman warga, juga prasarana dan sarana umum di Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik. Data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, banjir awal Februari 2009, ketinggian air di Bojonegoro berkisar 15 meter (siaga III), genangan banjir merendam 116 desa yang tersebar di 15 kecamatan.
Jumlah warga terdampak, tercatat 10.239 KK (40.298 jiwa), di antaranya 1.331 jiwa terpaksa harus mengungsi. Ini belum termasuk warga korban banjir di Tuban, Lamongan dan Gesik.
Bahkan, banjir dengan skala besar yang pernah terjadi pada awal 2008, dengan ketinggian air pada papan duga di Bojonegoro mencapai 16,26 meter, mengakibatkan kawasan wilayah perkotaan juga ikut terendam air banjir hingga mencapai 75 persen lebih, dan tercatat sekitar 200 ribu jiwa warga di Bojonegoro mengungsi.
Di daerah hilir Jatim, sebagaimana dituturkan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah bengawan Solo di Bojonegoro, Agus Bachtiar, pengendalian banjir luapan Bengawan Solo mengandalkan sudetan di Plangwot, Lamongan, menuju Laut Jawa yang mampu memotong puncak banjir sebesar 640 meter kubik per detik.
Selain itu, pengendali banjir luapan Bengawan Solo lainnya yang menjadi tumpuan yaitu tanggul kanan dan kiri Bengawan Solo yang sudah ada, yang sudah terbangun di daerah hilir Jatim.
Diantaranya yang terbaru, tanggul kanan Bengawan Solo di Kecamatan Kanor, Bojonegoro, yang dibangun Balai Besar Bengawan Solo di Solo, Jateng, sepanjang 4,6 kilometer, pada 2010, dan direncanakan pembangunan tanggul dilanjutkan hingga sepanjang 17 kilometer, dan diprediksi mampu berfungsi optimal mengalirkan debit banjir Bengawan Solo sebesar 640 meter kubik per detik. Hanya saja, dalam mengoperasionalkan sudetan sepanjang 13,6 kilometer itu, tetap melalui standar operasional.
Asumsinya, pintu masuknya air ke arah sudetan, dibuka kalau ketinggian air banjir di pos pantau Laren, Lamongan, airnya setinggi empat meter. Sebaliknya, kalau ketinggian air Bengawan Solo dibawah empat meter, pintu sudetan ditutup, dan air tetap mengalir melalui sungai utama ke arah laut.
Keberadaan sudetan, sangat penting, karena mampu meredam dan mempercepat proses surutnya air banjir di daerah hilir Jatim. Sebab, dengan debit banjir yang besarnya mencapai 3.000 meter kubik per detik lebih, bisa dipotong di alihkan melalui sudetan, sebesar 640 meter kubik per detik.Â
Sebelum itu, banjir yang terjadi di Bojonegoro, Tuban dan sekitarnya, bisa berlangsung selama sepekan. Setelah dibangun sudetan pada tahun 2.000, genangan banjir yang terjadi bisa berkurang hanya tiga hari. Namun, lanjutnya, kalau sudetan tidak berfungsi optimal atau tidak berfungsi sama sekali, akibat terganggu sedimen, banjir semakin menjadi. (LEA)
Â
Â
Â
Mentan Optimis Indonesia Swasembada Beras Lebih Cepat dari Target
Prabowo Pimpin Rapat Percepatan Pembentukan Koperasi Merah
Bareskrim Telusuri Laporan Ridwan Kamil Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik
AS-Rusia Bahas Upaya Perdamaian di Ukraina
?Wali Kota Makassar Pastikan Seleksi Sekda Berjalan Transparan dan Profesional?









