Bojonegoro – Bencana luapan air bah dari Bengwan Solo yang hampir dipastikan tiap tahun menengelamkan ratusan hektar area pertanian dan pemukiman, dipastikan akan terus bertambah parah manakal aktifitas penembangan pasir di daerah aliran sungai (DAS) terpanjang di Jawa ini tak segera ditertibkan.
Tingginya kegiatan penambangan pasir, baik dengan cara tradusional dan semi modern dengan menggunakan mesin penyedot tenaga diesel, tak pelak menjadikan tebing Sungai Bengawan Solo di wikayah Kabipaten Bojonegoro rusak parah.
Kepala Bagian Humas Pemkab Bojonegoro, Johny Nurhariyanyo, Senin 22 Maret 2010 menyatakan keprihatian dan ketakutannya akan datangnya bencana air yang lebih besar lagi.
Ketakutan tersebut bukanlah tanpa alasan. Seperti yang dikatakannya, tebing Begawan Solo dikhawatirkan akan terus mengalami kerusakan dan menimbulkan bencana apabila aktifitas peambangan pasir yang kian hari terus menjamur tak secepatnya ditertibkan.
Pantauan di lapangan menunjukkan, jumlah orang yang menggantungkan hidup dari penambangan pasir di Kabupaten Bojonegoro jumlahnya ratusan dan dipastikan tak mengantongi ijin alias liar dan bisa dikategorikan sebagai penjahat lingkungan karena melanggar hukum dan perundangan yang ada.
Polda Riau Amankan 8 Remaja Diduga Terlibat Aksi Kejahatan Jalanan
76 Personel Gabungan Cari Korban Banjir Bandang di Pegunungan Arfak
Dankormar Sambut Kepulangan Satgas TNI Kontingen Garuda Unifil TA 2024
Prabowo Lawatan ke Kawasan Timur Tengah dan Turki
Prabowo Tegaskan Pertek Harus Seizin Presiden









