TUBAN – Produksi mebeler di tingkat rumahan (home industri) yang menggunakan bahan baju kayu jati di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mulai kembali bergairah bila dibanding tiga bulan terakhir menyusul menurunnya daya beli dan sulitnya bahan baku serta permodalan yang kecil.
Persoalan prinsip terkait melemahnya daya beli masyarakat atas mebeler kayu jati, seperti disebutkan Kasiban, seorang perajin mebel kayu jati di Desa Sugihan, Kecamatan Jatirogo, lebih karena disebabkan oleh faktor tingkat penghasilan masyarakat, yang mayoritas petani dan pedagang musiman, akibat belum tiba musim panen.
“Rata-rata yang membeli mebel mebel di tempat saya adalah petani,” kata Kasiban.
Di tempat usaha sekaligus tempat tinggal keluarganya, terdapat 8 orang tukang yang digaji dengan sistem borongan. Untuk mengerjakan almari bufet lengkap dengan rak televisi, yang dijual Kasiban dengan kisaran harga Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta, untuk ongkos tukangnya Rp 250 ribu.
Kasiban mengatakan, disamping tingkat pendapatan masyarakat yang tidak menentu, kendala utama tersendatnya produksi mebeler rumahan yang dikelolanya adalah faktor bahan baku kayu jati yang sulot diperoleh.
Untuk memperoleh kayu jati, Kasiban dan sejumlah petajin lainnya di Kecamatan Jatirogo, dengan cara membeli ke pengusaha mebel besar di luar Kecamatan Jatirogo meski dengan harga yang cukup mahal. Sebagai contoh, jenis kayu papan ukuran 60 cm X 40 cm dengan ketebalan 4 cm per lembarnya seharga Rp 100 ribu.
“Sekarang ini, bahan baku relatif mudah diperoleh meski harganya mahal. Problem baru yang muncul adalah persoalan modal. Ada banyak pesanan, tapo saya tidak punya cukup uang. Pemesan yang datang baru membayar setelah barang selesai. Itu pun kadang-kdang masih dihutang pula,” keluh Kasiban yang mendambakan adanya kucuran modal dengan sistem pinjaman lunak.
Seorang perajin rumahan lainnya di Desa Mojomalang, Kecamatan Parengan, Badrun, menyatakan hal sama dengan Kasiban. Sejak awal bulan November ini, dia menerima banyak order pembuatan almari, meja kirsi dan perangkat mebeler lainnya.
Namun, karena tidak punya modal Badrun melempar order tersebut ke pengusaha lain di Bojonegoro dan terpaksa menjadi pekerja biasa dengan sistem upah borongan.









