maiwanews – Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menyatakan, TNI akan menggunakan produk dalam negeri dalam memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Hal tersebut yang menjadi pokok dari pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan pimpinan tiga industri strategis (PT DI, PT PAL dan PT Pindad) dan jajaran TNI, Senin, 11 Oktober 2010.
“Arahannya adalah bagaimana agar semua peralatan alutsista sudah bisa diproduksi dalam negeri. Semua alutsista yang bisa diproduksi dalam negeri harus membeli dalam sendiri,” kata Panglima TNI.
Produksi alutusista tersebut, Panglima menyatakan sudah dilakukan produksi kapal, tank jenis BTR, helikopter, pesawat CN 235 dan panser. Semua produksi sudah dilakukan oleh industri dalam negeri, kecuali pesawat tempur.
Namun begitu, TNI tetap akan membeli peralatan dari luar negeri untuk yang belum bisa diproduksi di dalam negeri. Panglima mengaku, dukungan pembiayaan dalam negeri melalui BUMN sangat bagus.
“Pembiayaan dalam negeri kan sudah ada. Yang penting bagaimana industri pertahanan kita makin maju sehingga kita memiliki kemandirian pertahanan, tidak tergantung negara lain,” kata Agus.
Mengenai anggaran Rp150 triliun untuk TNI, Panglima mengatakan anggaran itu untuk masa lima tahun ke depan. Semua anggaran akan disesuaikan dengan jumlah kekuatan minimum atau minimun essential force.
“Kalau soal anggaran kan kita ada program dalam membangun kekuatan menuju kekuatan minimal, sudah terprogram semua, anggarannya sudah ada di situ,” katanya lagi.
Sementara itu, Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan BUMN strategis untuk 5 tahun ke depan adalah Rp 150 triliun, sekarang sudah ada Rp 97 triliun.
“Nanti kurangnya dicari dengan cara lain. Ini sudah menjadi prioritas menteri BUMN untuk gerakkan BUMN strategis menyahut perintah Pak Presiden untuk memproduksi alutsista dengan mengutamakan bahan dan sumber daya dalam negeri,” kata Mustafa.









