maiwanews – Korban tewas akibat tersapu gelombang tsunami di kepulauan Mentawai terus bertambah. Data dari Posko Mentawai, Jumat, 29 Oktober menyebutkan, korban tewas mencapai 413 orang.
Jumlah korban tewas tersebut diperkirakan akan terus bertambah mengingat jumlah yang dinyatakan hilang masih cukup besar yakni 298 orang, sementara 270 warga lainnya mengalami luka berat.
Selain itu, gelombang tsunami yang tingginya mencapai 4-7 meter itu juga mengakibatkan 517 rumah mengalami rusak berat, 204 rumah rusak ringan dan 22.595 warga mengungsi.
Data korban tsunami Mentawai memang berbeda-beda, namun angkanya tidak terpaut jauh satu sama lain. Hal itu terjadi karena belum selesainya perhitungan seluruh korban.
Menurut data terakhir Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdal Ops PB) Sumatera Barat, korban tewas sebanyak 394 orang, korban luka berat sebanyak 267 orang, luka ringan 142 orang, dan 312 dinyatakan hilang.
Sementara Pusdal Ops PB mencatat, rumah warga yang rusak berat sebanyak 442 unit dan rusak ringan 200 unit. Rumah ibadah 6 unit, sekolah 5 unit, rumah dinas 6 unit, jembatan 5 unit, resor 2 unit, serta kapal 1 unit terbakar.
Proses pencarian dan evakuasi terhadap kemungkinan masih terdapatnya korban tewas masih terus dilakukan, mayat-mayat yang telah ditemukan sebelumnya, sebagian besar sudah dalam keadaan membusuk.
Mayat-mayat tersebut sebagian besar ditemukan di pulau yang sebelumnya tidak berpenghuni. Diperkirakan hal itu terjadi karena mayat tersebut terbawa oleh arus setelah tsunami terjadi.
Sementara itu, bantuan untuk korban Mentawai sudah mengalir dari berbagai pihak, namun mengalami kendala dalam proses distribusi karena hambatan transportasi menuju Mentawai.
Bahkan transportasi melalui laut juga terhambat. Sejumlah kapal pengangkut bantuan tidak dapat merapat karena tingginya gelombang laut di Mentawai serta banyaknya karang di sekitar pulau itu yang menghambat kapal merapat, sehingga harus menggunakan perahu perahu kecil untuk mengangkut bantuan ke darat.
Pengiriman bantuan paling efektif praktis hanya melalui udara dengan helikopter. Sementara dengan pesawat, beberapa terpaksa dilakukan dengan cara melempar bantuan itu dari udara.









