Walhi Aceh Adakan Pembekalan Bagi 40 Anggota Baru

Rafli-Walhi-Aceh
Rafli saat membawakan syair Asai Nanggroe

Banda Aceh – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh mengadakan kegiatan pembekalan kepada sekitar 40 orang anggota Sahabat Walhi di Setui Kupi Atjeh. Kegiatan bertema melalui pembekalan sahabat Walhi, kita galang generasi muda sadar lingkungan dan faham akan upaya pengurangan resiko bencana. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung tanggal 13 – 14 April 2011.

Staf Walhi Aceh bidang Advokasi dan Kampanye Yusriadi menjadi pemateri pertama memaparkan slide berjudul ‘Strategi dan Konsep Dasar Penanggulangan Bencana di Aceh‘. Pada kesempatan itu ia menjelaskan, “ UU No. 24 tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat yang disebabkan, baik factor alam dan atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.”

Ia melanjutkan jenis bencana terbagi atas bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, longsor, gerakan tanah. Selanjutnya bencana Hidro-meteorologi yaitu, banjir, topan, banjir bandang, kekeringan. Sedangkan jenis lainnya seperti bencana biologi meliputi epidemi penyakit tanaman/hewan, jenis bencana tehnologi semisal kecelakan transportasi, bencana Industri, juga jenis bencana lingkungan contohnya kebakaran, kebakaran hutan, penggundulan hutan dan jenis bencana sosial seperti konflik dan terorrisme, jelas Yusriadi yang merupakan salah seorang tim perumus Peraturan Gubernur (Pergub) Penangulangan Bencana Aceh (PBA) itu.

Salah seorang peserta Effendi, dalam sesi tanya jawab mempertanyakan perihal kasus kerusakan lingkungan yang disebabkan Lapindo, “Bagaimana kasus Lapindo mau dimasukkan sebagai jenis bencana industri dan dijadikan bencana nasional, sementara itu akibat aktivitas penambangan. Begitu juga Arun (bencana kebocoran-red) di Aceh yang bukan tidak mungkin menjadi hal serupa, dimana saat bencana terjadi yang merasakan dampak kerusakan langsung dari bencana itu bukan orang atau pihak yang mendapatkan keuntungan dari aktivitas eksploitasi sumber daya alam tersebut, “ gugatnya.

Materi kedua yang dipandu Direktur Eksekutif Walhi Aceh, TM.Zulfikar menghadirkan seniman Aceh Rafly yang diminta membawa agenda bertemakan “Aktivitas seni sebagai bagian strategi kampanye pelestarian lingkungan hidup dalam rangka pengurangan resiko bencana”. Rafli dalam kesempatan itu membawakan syair Lagu Asai Nanggroe digubah liriknya menjadi kalimat berikut yang dinyanyikan bersama peserta.

Sementara staf UNDP dalam program Disaster Risk Reduction (DRR) Aceh, Fahmi Yunus, hadir sebagai pemateri berjudul “ Strategi pengurangan resiko bencana untuk Aceh” dengan sub tujuan ‘bersama mewujudkan Aceh yang lebih aman melalui pengurangan resiko bencana”.

Fahmi menjelaskan, “Ada pembelajaran dari bencana (tsunami-red) yang terjadi dimasa lalu, dimana kurangya informasi, kurangnya pengetahuan, kurangnya keterampilan untuk mengurangi resiko serta masyarakat yang saat itu panik sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana menyelamatkan diri,” jelasnya.

Ia melanjutkan, “ Intinya saat gempa terjadi lebih satu menit dan merasakan berdiri sulit, silakan mencari tempat yang lebih tinggi/aman. Masa lalu menjadi pembelajaran dalam mengadakan simulasi bencana seperti Tsunami Drill di tahun 2007 yang diikuti sangat antusias dari warga Banda Aceh, namun sayangnya pada 2009 cenderung berkurang minat masyarakat mengikutinya. Penanggulangan tanggap darurat cenderung lamban, seperti di Tangse contohnya,” ujarnya.

Kegiatan Pembekalan ini juga merencanakan kegiatan penanaman pohon, Kamis (14/04) di bantaran sungai Kr. Lamnyong Banda Aceh dilanjutkan dengan Diskusi kelompok dan perumusan strategi aksi lanjutan dalam rangka kampanye penyadaran lingkungan hidup di Aceh. (alfan raykhan pane/aso)