Presiden AS Barack Obama dan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan niat kedua kepala negera untuk membuka kembali program Korps Perdamaian (Peace Corps) dalam sebuah diskusi bilateral yang berlangsung di sela-sela KTT APEC di Singapura pada tanggal 15 November.
Setelah pengumuman tersebut dikeluarkan, Direktur Peace Corps, Aaron S. Williams, menyatakan, “Kami merasa sangat terhormat karena Indonesia akan menjadi tuan rumah bagi generasi sukarelawan Korps Perdamaian berikutnya yang terinspirasi oleh warisan pengabdian Presiden Kennedy. Dalam 48 tahun terakhir ini Korps Perdamaian telah mengetuk hati sekitar 200,000 warga Amerika untuk melakukan pengabdian masyarakat di luar negeri mereka.”
“Saya sangat menantikan kesempatan untuk berkerjasama dengan pemerintah dan masyarakat di Indonesia. Kerjasama ini akan mendorong warga Amerika dan Indoensia untuk bersama-sama memajukan inisiatif-inisiatif pendidikan di Indonesia sembari meningkatkan rasa saling pengertian antara kedua negara diantara semua orang yang terlibat program ini,” lanjut Direktur William, yang dahulu pernah menjadi seorang sukarelawan Korps Perdamaian ke Republik Dominika pada tahun 1967-1970.
Kelompok sukarelawan pertama akan tiba di Indonesia pada 2010 dan akan bekerja sebagai guru bahasa Inggris di SMA dan lembaga pelatihan guru di Jawa Timur.
Duta Besar AS untuk Indonesia Cameron Hume menyatakan bahwa kehadiran program Korps Perdamaian di Indonesia menunjukkan semakin eratnya hubungan antara kedua negara. “Di samping membawa keahlian dalam mengajar bahasa Inggris, hubungan yang terjalin antara para relawan dan tuan rumah, sahabat, dan rekan mereka dari Indonesia akan semakin mendorong hubungan antarmasyarakat dan pemahaman serta komunikasi lintas budaya antara kedua negara,” kata Duta Besar Hume, yang juga pernah menjadi anggota sukarelawan Peace Corps ke Libya pada tahun 1968 hingga 1969.
Korps Perdamaian yang dibentuk oleh Presiden John F. Kennedy pada 1961 pernah dijalankan di Indonesia pada 1963-65. Amerika Serikat dan Indonesia baru-baru ini mencapai kesepakatan prinsip penyusunan nota kesepahaman (MoU) untuk memulai kembali program relawan yang baru di Indonesia. Presiden Obama juga adalah seorang pendukung kuat dalam meningkatkan kesempatan bagi semua rakyat Amerika untuk melakukan pengabdian masyarakat.
Sejak tahun 1961, Korps Perdamaian memiliki misi untuk mempromosikan perdamaian dunia dan persahabatan antar negara lewat kesempatan melakukan kegiatan sosial di luar negeri. Korps Perdamaian saat ini mempunyai hampir 7.500 relawan yang bertugas di 75 negara, dan Indonesia akan menjadi negara ke-76 yang menjadi tuan rumah bagi para sukarelawannya. Negara-negara lain di kawasan Asia yang menjadi tuan rumah bagi Korps Perdamaian adalah: China, Kamboja, Mongolia, Filipina dan Thailand. Tahun ini saja, Korps Perdamaian telah menerima lebih dari 15.000 lamaran untuk menjadi sukarelawan – sebuah peningkatan sebesar 18% dari tahun 2008.
Para Relawan tersebut terlibat dalam berbagai bidang penting seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, lingkungan hidup, pengembangan remaja dan masyarakat, teknologi informasi dan pengembangan usaha.
Sepanjang sejarahnya, Korps Perdamaian telah beradaptasi dan menanggapi isu-isu sesuai perkembangan zaman. “Dalam dunia yang senantiasa berubah, para relawan Korps Perdamaian menyambut berbagai tantangan baru dengan inovasi, kreativitas, keteguhan, dan kasih sayang,” kata Duta Besar Hume. “Karakteristik inilah yang sejak dulu hingga kini telah memungkinkan — dan akan terus memungkinkan — Korps Perdamaian melaksanakan misinya.”
Para pria dan wanita yang bergabung dengan Korps Perdamaian mencerminkan keragaman Amerika dalam hal ras, latar belakang etnis, usia, dan agama. Mereka memiliki kemampuan fisik yang berbeda-beda. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia, dari semua latar belakang dan semua kalangan. Masing-masing membawa perspektif yang unik.









