Ririt BS: Mengharap Hujan tak Harus Bakar Hutan

RIRIT BUDI SASONO
RIRIT BUDI SASONO
TUBAN – Ada tradisi atau kebiasaan bagi masyarakat, terutama yang tinggal di tamping atau pinggiran hutan, menghadapi kemarau panjang dan berharap segera turun hujan dengan membakar area lahan perhutani.

Bagi pihak Perhutani hali itu sangat merugikan. Disamping disamping dikhawatirkan bisa menghabiskan seluruh tanaman akan berakibat perusakan lingkungan dan ekosistem yang ada.

Kepala Seksi Pemberdayaan Sumberdaya Hutan (PSDH) KPH Parengan, Ririt Budi Sasono, menyatakan kebiasaan ‘buruk’ itu sesegera mungkin untuk ditinggalkan.

Mitos minta hujan dengan membakar lahan hutan tidak menguntungkan. Bahkan sebaliknya, Ririt menghimbau mengimbau masyarakat untuk segera menghentikan kebiasaan atau tradisi membakar hutan, terutama di kawasan Gunung Pete dan sekitarnya untuk berbagai tujuan. Pembakaran hutan dan semak-semak di areal hutan tersebut akan semakin memperbesar
tingkat kerawanan erosi.

“Kami menghimbau kepada masyarakat yang terbiasa melakukan pembakaran hutan di sekitar Gunung Pete. Selain berbahaya bagi masyarakat sekitar, hal itu juga tergolong perusakan alam yang berat,” tutur Ririt, yang dihubungi Jumat (16/09/2011) pagi.

Ririt menyatakan kesiapannya membantu pemadaman oleh petugas Damkar KPH Parengan yang terdiri 10 orang petugas bila terjadi kebakaran. Hal itu sudah dia lakukan dalam kejadian kebakaran yang terjadi belakangan ini saat ditemui di pos pengendali kebakaran hutan di jalan kilometer 12 Bojonegoro – Jatirogo.

Data yang berhasl dihimpun di KPH Parengan menyebutkan, dalam dua bulan terakhir ini, terjadi dua kali kebakaran cukup hebat di hutan BKPH Parengan Selatan, Utara, Pungpungan dan Mulyoagung di Kabupaten Tuban. Pada akhir Agustus lalu bersamaan tibanya musim kemarau di beberapa lokasi terjadi kebakaran di lahan seluas 100 hektar di sekitar hutan Blok Parengan dan Blok Mulyoagung di Kecamatan Parengan dan Singgahan.

Tak berselang lama, kebakaran terjadi lagi di Blok hutan Jatirogo dan Tuban. Saat itu, kebakaran melahap 50 hektar hutan semak belukar yang masuk dalam kawasan hutan tersebut. Beruntung, ketika hutan di wilayahnya sedang dilalap jago merah, Asper BKPH Sekaran, Teguh Yuli Anggoro, bersama-sama petugasnya dan sejumlah anggota Lembaga Masyarakat Desa
Hutan (LMDH) Sekaran sedang berada di kawasan terjadinya kebakaran.

Teguh mengatakan, kebiasaan atau tradisi sejumlah oknum masyarakat tertentu kerap jadi pemicunya kebakaran. Mereka percaya bila ada kebakaran hutan maka akan segera turun hujan. “Biasanya ada warga yang kerap membakar hutan dengan harapan hujan segera turun,” tutur Teguh. (MET/ACH)