Akibat Puso Petani Merugi Rp 70 Miliar

PETANIBOJONEGORO – Akibat serangan hama wereng coklat, dalam kurun bulan Oktober 2010 hingga medio Juni 2011 ini. luas lahan padi puso mencapai 5 ribu ha (Hektar).
Apabila dinominalkan, total kerugian yang dialami petani mencapai Rp 70 miliar.

Taksiran kerugian itu didasarkan asumsi harga gabah Rp 2.500 perkilogram dan hasil panen rata-rata 5,6 ton per ha. Kerugian petani di lahan padi lainnya diperkirakan masih dapat bertambah mengingat serangan wereng coklat berlangsung.

“Kerugian nominal hasil dari pengalian harga gabah dengan jumlah gabah yang perhektar hasil panennya lima koma enam ton,” ungkap Kabag Humas Pemkab Bojonegoro, Mahmudin.

Dikatakan Mahmudin, serangan wereng coklat di lahan padi yang menyebabkan puso itu bervariasi. Yakni mulai dari serangan berat, sedang, ringan, hingga yang baru terancam.

Dari 5 ribu hektar yang puso itu terjadi 9 kecamatan dan mulai merambah di kecamatan lainnya.

Untuk 9 kecamatan, di Bulan Oktober 2010 hingga Februari 2011, lahan padi puso di Kecamatan Dander seluas 276 Ha, Kapas 113 Ha dan Balen 51,7 Ha.

Di Bulan Maret 2011, lahan puso seluas 54,4 Ha di Kecamatan Balen, Sekar 52 Ha dan Trucuk 35,6 Ha. Untuk Bulan Juni 2011, lahan padi puso terjadi seluas 27,75 Ha di Kecamatan Ngambon, 26 Ha di Kapas, 24 Ha di Kedungadem, 17 Ha di Baureno, 10 Ha di Temayang dan di Kecamatan Kepohbaru seluas 8 Ha.

Selain itu wabah wereng coklat juga merambah lahan padi di Kecamatan Kota, untuk Desa Pacul tercatat 65 Ha.

“Pemkab melalui Bupati Bojonegoro telah mengupayakan ganti rugi kepada masing masing petani yang lahan padinya gagal panen, beliau telah mengusulkan ke pemerintah pusat untuk mendapatkan program agroinput atas padi puso yang biasanya teralisasi untuk satu hektar lahan sebesar dua koma enam juta,” terang Mahmudin.

Disebutkan, gerakan memberantas wereng coklat masih terus dilakukan oleh Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Pertanian.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro, Subekti, menyatakan populasi wereng coklat dapat ditekan.

“Saat ini cuaca sudah mulai membaik, hujan sudah mulai jarang. Kalau cuaca terus membaik, kami optimistis serangan hama wereng ini bisa ditekan. Asal tidak hujan di malam hari, pertumbuhan wereng bisa terhambat,” ujar Subekti.
Berdasar pantauan di lapangan menunjukkan, banyak petani yang membakar tanaman padinya dan sebagian lainnya memotongi untuk pakan ternak. (LEA)