
TUBAN – Beragam cara dilakukan warga Tuban dalam menunggu tibanya saat berbuka puasa. Salah satunya, sepertri yang dilakukan puluhan anak di Desa Genaharjo, kecamatan Semanding yang memiliki cara tersendiri ketika mengisi waktu luang sambil
menunggu bedug tanda berbuka puasa.
Mereka memainkan musik daun tradisional setempat dari daun lonatar. Suara bebunyian soneta yang dilantunkan lembut menyentuh jiwa. Di saat lain melekengking tinggi seperti cita-cita mereka yang digantungkan di awan berarak di atas rerimbunan
pohon siwalan.
Sore nan cerah di sebuah ladang yang ditumbuhi pohon siwalan. Keceriaan terlihat pada diri sejumlah anak Desa Genaharjo. Mereka berkumpul di bawah rerimbunan pohonan bersiap bermain musik daun lontar, yang hampir punah di tanah asalnya.
Selain untuk menunggu berbuka puasa, alat musik dari daun lontar yang dimainkan jelang rembang petang ini, seperti disebutkan Iswanto, pendiri Komunitas Bunyi Genaharjo (KBG), juga demi melestarikan budaya lokal yang hampir punah.
Setelah semua siap, sejumlah anak yang tergabung KBG ini mulai memainkan musik ‘kontemporer’ dari daun siwalan. Gema kumandang bebunyian alunan musik dan tembang khas dusun seperti menghapus lapar dahaga seharian.
Syair tetembangan yang dimainkan sore itu, memberikan warna tersendiri akan corak musik tradisional yang mereka mainkan. Suaranya menyatu menjadi alunan irama dengan alam membentuk irama yang mereka sebut sebagai musik geladagan (bunyi jatuhnya pelepah daun lontar bersuara dag, Red).
Demikianlah anak-anak memainkannya dengan jiwa dan hati yang damai menunggu saat buka puasa tiba setiap sore. Selain memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri, sejumlah tetembangan lainnya, Ilir-Ilir Karya Sunan Kalijogo yang lebih kerap mereka mainkan.
Di sebalik musik bebunyian dari daun lontar tersebut, begitu menyebut daun lontar, yang pertama terlintas di benak adalah kota Tuban, selain Rote di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pohon lontar (borassus flabelliber) dan geliat warganya mendayagunakan habis seluruh potensi ekonomis pohon itu, dari akar hingga pucuknya. Meminjam istilah Kompas, warganya merupakan basis masyarakat yang ‘berbudaya’ lontar. Nyaris tidak ada bagian dari lontar yang tidak digunakan.
Seni musik masyarakat di daerah ini, misalnya, juga diekspresikan lewat lontar. Bagian yang memberi ruang resonansi mirip sasando (alat musik petik tradisional NTT asal Rote Ndao) terbuat dari daun lontar.
Sejak berabad-abad silam, lontar pun telah menjadi semacam “pohon kehidupan” yang memberi nafas kehidupan pada sebagian masyarakat di kecamatan Semanding, Merakurak, Plumpang serta daerah lain yang bertipografi keras penuh bebatuan. Selain sumber pangan, lontar adalah sumber uang.
Misalnya, tandan bunga lontar lebih sering disadap untuk diambil niranya, yang merupakan hasil utama dan berguna untuk pembuatan gula serta minuman khas setempat. Buah muda siwalan juga menjadi komoditas tersendiri. (TOM)
Razia Jelang Ramadan, Aparat Pringsewu Amankan Pengguna Narkoba
Amerika Kenakan Tarif Tambahan 25 Persen atas Barang Impor dari Kanada
Menhan AS Rencana untuk Menampung Migran Ilegal di Teluk Guantanamo
Sambut Kunjungan Danlantamal VI Makassar Baru, Danny: Selamat Datang Komandan
Danlantamal VI Makassar Menerima Kunker Danpasmar 2









